BATANG HARI — Rapat yang digelar di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang Hari ini turut dihadiri Danrem 042/Garuda Putih, Bupati Batang Hari, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Kepala Diskominfo Provinsi Jambi, serta perwakilan unsur Forkopimda. Fokus pembahasan mengarah pada kebakaran di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Sultan Thaha Saifuddin (STS), yang menjadi salah satu titik kritis penyebaran api.
Bibit Hujan Jadi Target Utama OMC
Al Haris menyebut, upaya pemadaman dari darat dan udara akan dibantu dengan rekayasa cuaca. Tim OMC dijadwalkan mulai bertugas pada Kamis (10/9/2026) mendatang.
"Mudah-mudahan 10 September tim akan melakukan modifikasi cuaca. Semoga ketemu bibit hujannya. Kita harapkan di wilayah Batang Hari ada bibit hujan sehingga memudahkan tim melakukan OMC nantinya," ujarnya.
Personel Bertambah dari 5.900 Menjadi 7.000 Orang
Gubernur mengakui, kondisi tanpa hujan membuat penanganan karhutla semakin berat. Ia juga menyoroti kebutuhan tenaga di lapangan yang terus meningkat seiring meluasnya area terdampak.
"Kalau gak ada hujan kita berat, kita kekurangan tenaga. Petugas kita dari 5.900, sekarang sudah lebih 7.000 lebih," ungkapnya.
Penambahan personel ini menjadi sinyal bahwa operasi pemadaman tidak hanya mengandalkan upaya darat, tetapi juga membutuhkan dukungan logistik dan koordinasi lintas instansi yang lebih masif.
Koordinasi Tiga Pilar Jadi Kunci
Dalam rapat tersebut, Al Haris menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan langkah yang terukur. Ia meminta seluruh unsur terkait untuk memperkuat koordinasi dan bekerja sungguh-sungguh agar kebakaran dapat segera dikendalikan.
"Intinya kita disini bersama-sama dengan bekerja sungguh-sungguh," tegas Al Haris.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan unsur terkait lainnya dinilai menjadi kunci utama dalam mempercepat proses pemadaman, sekaligus mencegah meluasnya titik api ke wilayah permukiman warga.