Operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi memasuki fase krusial sepanjang September dengan penguatan satuan tugas (satgas) darat sebagai garda utama pemadaman. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan evaluasi operasi sebelumnya membuktikan tim darat menjadi metode paling efektif dalam memadamkan api.
JAMBI — Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Jambi, TNI-Polri, BNPB, Manggala Agni, hingga dunia usaha bersepakat memperkuat operasi darat untuk menghadapi puncak kebakaran hutan dan lahan yang diprediksi terjadi pada September. Kesepakatan itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Teknis Penanganan Karhutla Provinsi Jambi, Rabu (2/9).
Penilaian Puncak Api: Kenapa September Berbahaya?
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan seluruh elemen agar tidak menurunkan kewaspadaan. Menurutnya, periode ini menjadi penentu keberhasilan pengendalian karhutla di daerah itu.
“Puncak karhutla ini adalah bulan September. Ini medan perjuangan, ladang perjuangannya justru di September ini. Jadi semua pihak, pemerintah, TNI, Polri, termasuk masyarakat, diharapkan bersama-sama berpartisipasi untuk mengatasi persoalan karhutla ini,” tegas Raja Juli dalam keterangannya, Rabu.
Pernyataan tersebut sejalan dengan arahan Kepala BNPB yang meminta jajaran satgas darat dioptimalkan. Analisa dari operasi-operasi sebelumnya menunjukkan pendekatan ini memberi hasil paling signifikan dibandingkan metode lain.
“Sehingga penguatan satgas darat perlu dilakukan untuk mendukung operasi pemadaman,” ujar Suharyanto.
Tantangan Lahan Gambut: Api Tak Terlihat, Asap Menguar
Gubernur Jambi Al Haris memastikan setiap laporan titik api akan langsung direspons cepat. Prosedur tetap yang dijalankan adalah mobilisasi tim satgas kabupaten/kota untuk pemadaman awal sebelum water bombing dari BNPB dikerahkan.
“Begitu ada kebakaran, langsung kita kejar titik api di mana, langsung ada pemadaman dengan tim Satgas di daerah, lalu diikuti lagi dengan water bombing yang telah disiapkan BNPB,” kata Al Haris.
Ia menegaskan penanganan karhutla di lahan gambut tidak bisa dilakukan setengah hati. Karakteristik lahan gambut membuat api bertahan di bawah permukaan meski tak lagi terlihat secara kasat mata, sehingga berpotensi memicu titik api baru di lokasi yang sama dalam hitungan jam.
“Tugas kami adalah mengawal sampai tuntas pendinginannya,” ujarnya.
Dukungan PT WKS di Lapangan dan Inspeksi ke HLG Londerang
Sinergi dengan pihak swasta menjadi salah satu kunci percepatan penanganan. PT Wirakarya Sakti (WKS) yang merupakan unit usaha APP Group turut mendukung operasi melalui pengerahan personel, peralatan pemadaman darat, serta dukungan operasi udara sesuai koordinasi dan kebutuhan Satgas Karhutla di lapangan.
Keterlibatan perusahaan itu sempat ditinjau langsung Gubernur Al Haris saat memantau penanganan kebakaran di kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung kolaborasi berbagai unsur mencegah api meluas.
“Teman-teman dari TNI-Polri, hari ini Pangdam langsung turun ke lapangan bersama kami, juga Danrem, Karo Ops Polda Jambi, BPBD, Manggala Agni, kemudian dari PT WKS juga aktif memantau dan mengawal agar apinya tidak meluas,” jelas Al Haris.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari penguatan respons karhutla secara menyeluruh, mulai dari pemadaman awal hingga proses pendinginan menyeluruh pada lahan yang sempat terbakar. PT WKS menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan satgas untuk memenuhi kebutuhan operasional di lapangan.