JAMBI — Penurunan debit Sungai Batanghari tahun ini dipicu oleh curah hujan yang jauh berkurang dan panjangnya periode tanpa hujan. Hamparan pasir seluas sekitar lima hektare mulai muncul di sejumlah titik tepian sungai di Kota Jambi, Muaro Jambi, dan Kabupaten Batang Hari. Aktivitas warga yang bergantung pada sungai pun mulai terganggu, mulai dari ketersediaan air bersih hingga transportasi sungai.
Kematian Ikan Massal dan Penurunan Produksi 30 Persen
Di Desa Sungai Duren dan Desa Sarang Burung, Kabupaten Muaro Jambi, penyusutan air menyebabkan kadar oksigen menurun drastis. Akibatnya, ikan di keramba milik warga mati secara massal. Para petani keramba memperkirakan produksi ikan keramba apung turun sekitar 30 persen dibanding musim normal.
Tak hanya perikanan, sejumlah sumur warga di sepanjang bantaran sungai mulai mengalami penyusutan debit. Beberapa bahkan mengeluarkan air berbau dan tidak layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Krisis air bersih mulai dirasakan di pemukiman tepi sungai di Kota Jambi dan Muaro Jambi.
Ancaman Karhutla: 1.463 Titik Panas dan 137 Hektare Lahan Terbakar
Kemarau berkepanjangan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah Provinsi Jambi telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla untuk periode April hingga November 2026. Sebanyak 81 posko terpadu dibentuk di kawasan rawan.
Hingga akhir semester pertama 2026, tercatat 1.463 titik panas dengan konsentrasi tertinggi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (451 titik) dan Muaro Jambi (339 titik). Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 137,72 hektare. Di Muaro Jambi sendiri sudah terjadi 12 kejadian karhutla sejak Januari, terutama di Kecamatan Kumpeh yang didominasi lahan gambut.
Perbandingan Tiga Tahun: Pola Berulang yang Harus Diwaspadai
Data pemantauan menunjukkan penyusutan Batanghari bukan kejadian sekali waktu. Pada 2024, tinggi muka air di Pos Ancol turun hingga sekitar 7,99 meter dari normal 9 meter. Tongkang batu bara tidak bisa melintas selama lebih dari tiga bulan, banyak sumur warga mengering, dan hamparan pasir muncul hingga ke tengah sungai.
Pada musim kemarau 2025, kondisinya lebih ekstrem. Tinggi muka air di Pos Tanggo Rajo turun lebih dari satu meter hanya dalam dua minggu. Hamparan pasir mencapai sekitar 10 hektare, dan di kawasan Penyengat Rendah, sungai sempat bisa diseberangi dengan berjalan kaki.
Tahun ini, meski hamparan pasir baru terpantau lima hektare, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober. Potensi penyusutan lebih lanjut pun masih terbuka.
Menyikapi pola tahunan yang berulang ini, Wakil Ketua I DPRD Jambi Ivan Wirata menegaskan perlunya perubahan pendekatan. “Penyusutan Sungai Batanghari sudah menunjukkan pola yang berulang dari tahun ke tahun. Ini merupakan sinyal bahwa kita menghadapi persoalan yang bersifat struktural. Karena itu, langkah yang dibutuhkan bukan hanya penanganan ketika air sudah surut, tetapi membangun sistem mitigasi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Ia menambahkan, Batanghari adalah urat nadi kehidupan masyarakat Jambi yang menopang sektor air baku, perikanan, transportasi, dan keseimbangan ekosistem. Menurutnya, pemerintah provinsi bersama kabupaten dan kota harus memperkuat langkah mitigasi sejak dini agar dampak penyusutan tidak kembali meluas.