Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 95,98 poin atau 1,48 persen ke posisi 6.405,69 pada Rabu sore, seiring investor memilih bersikap hati-hati menanti aksi unjuk rasa di depan gedung DPR/MPR RI yang dijadwalkan Kamis (27/8) besok. Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan domestik, meskipun bursa kawasan Asia justru menguat.
JAKARTA — Tekanan jual mendominasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang sesi Rabu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot ke zona merah, sementara indeks LQ45 turut terkoreksi 1,46 persen ke level 632,55.
Koreksi ini terjadi saat pelaku pasar mengalihkan fokus dari faktor eksternal yang kondusif ke risiko domestik. Sentimen negatif datang dari rencana demonstrasi besar-besaran di depan gedung DPR/MPR RI pada Kamis besok, yang salah satu tuntutannya adalah pengesahan RUU Perampasan Aset.
Stabilitas Keamanan Jadi Faktor Utama Pergerakan IHSG
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut perhatian investor tertuju pada stabilitas keamanan nasional dan fundamental ekonomi makro. Pasar berharap aksi unjuk rasa berjalan damai agar iklim investasi tetap terjaga.
“Perhatian pasar tertuju pada stabilitas keamanan nasional serta faktor fundamental ekonomi makro. Pelaku pasar berharap aksi demonstrasi berjalan damai, sehingga stabilitas keamanan dalam negeri terjaga,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Fitch Ratings Beri Catatan untuk Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen
Dari sisi fundamental, pelaku pasar menyikapi penilaian Fitch Ratings yang menyebut asumsi pertumbuhan ekonomi 6,0 persen pada 2027 dalam RAPBN terbilang realistis. Namun, lembaga pemeringkat internasional itu memberikan catatan atas sejumlah risiko yang bisa mengganggu target tersebut.
Fitch menyoroti ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak, serta potensi kebijakan fiskal yang tidak disiplin sebagai faktor yang dapat mempengaruhi laju ekonomi Indonesia ke depan.
Calon Tunggal Gubernur BI Jadi Sorotan Pelaku Pasar
Agenda uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur Bank Indonesia juga masuk radar investor. Destry Damayanti yang diusulkan pemerintah sebagai calon tunggal menjadi perhatian, terutama terkait arah kebijakan moneter ke depan.
“Pelaku pasar menanti pandangan nakhoda baru Gubernur BI terkait arah kebijakan moneter, pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta strategi menjaga arus modal asing,” ujar Nico.
Sebelas Sektor Terkoreksi, Transportasi Paling Dalam
Dari internal bursa, seluruh sektor industri tercatat melemah. Sektor transportasi & logistik menjadi yang paling terpukul dengan koreksi sedalam 4,04 persen, disusul sektor energi yang turun 2,40 persen dan properti yang melemah 2,35 persen.
Data perdagangan mencatat frekuensi transaksi mencapai 2.489.000 kali dengan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 40,15 miliar lembar senilai Rp18,06 triliun. Sebanyak 599 saham ditutup menurun, sementara 136 saham menguat dan 228 lainnya stagnan.
Di tengah pelemahan domestik, mayoritas bursa kawasan Asia justru menghijau. Nikkei menguat 0,61 persen, Shanghai naik 0,59 persen, Hang Seng menguat 0,56 persen, dan Kospi melesat 0,97 persen. Hanya indeks Straits Times yang tercatat melemah tipis 0,24 persen.