Pencarian

3 Risiko Kesehatan di Balik Sunscreen Viral TikTok, Jangan Tertipu Klaim “Ajaib” Tanpa Bukti

Jumat, 15 Mei 2026 • 10:28:01 WIB
3 Risiko Kesehatan di Balik Sunscreen Viral TikTok, Jangan Tertipu Klaim “Ajaib” Tanpa Bukti
Sunscreen viral TikTok belum tentu memberikan perlindungan UV yang memadai.

JAMBI — Gelombang video influencer yang merekomendasikan satu merek tabir surya dengan klaim “ajaib”, tidak lengket, dan instan glowing membanjiri beranda TikTok. Dalam hitungan jam, produk tersebut ludes di berbagai toko daring. Fenomena ini menunjukkan kekuatan media sosial dalam membentuk kebiasaan baru, terutama dalam perawatan kulit.

Namun, di tengah euforia FOMO (Fear of Missing Out), pertanyaan mendasar kerap terlewatkan: apakah produk yang viral sudah teruji melindungi kulit dari kerusakan jangka panjang? Kesehatan kulit bukan sekadar tekstur nyaman di wajah, melainkan soal seberapa kuat perlindungan terhadap radiasi UV.

Filter UV Lama dan Risiko SPF Palsu

Beberapa waktu lalu, industri kecantikan diguncang kasus produk viral yang klaim SPF-nya jauh di bawah angka tertera setelah diuji independen. Sunscreen dengan SPF palsu memberikan rasa aman semu, sementara kulit sebenarnya terpapar radiasi UV tanpa perlindungan memadai.

Di tahun 2026, filter UV generasi baru seperti Tinosorb S/M atau Uvinul A Plus semakin populer karena stabilitasnya di bawah sinar matahari. Jika produk viral masih menggunakan filter lama yang mudah luruh, konsumen perlu berpikir ulang, terutama yang sering beraktivitas di luar ruangan.

Tekstur Ringan Bukan Jaminan Proteksi Maksimal

Banyak sunscreen viral dipuja karena teksturnya yang “serasa tidak memakai apa-apa” (invisible feel). Meski kenyamanan penting, stabilitas filter UV jangan sampai dikorbankan. Demonstrasi menggunakan kamera UV di video pendek memang memberikan dampak visual kuat, tapi durasi 60 detik tidak cukup menjelaskan kompleksitas formulasi.

Selain itu, kulit setiap orang bersifat personal. Sunscreen yang memberi efek melembapkan pada influencer berkulit kering bisa menjadi mimpi buruk bagi pemilik kulit berminyak dan rentan berjerawat. Klaim “cocok untuk semua jenis kulit” di video viral sering kali hanya strategi pemasaran.

Aturan Dua Jari dan Kebutuhan Reapply

Banyak orang mengikuti tren membeli produk, tapi mengabaikan cara pakai yang benar. Untuk area wajah dan leher, standar medis membutuhkan dua ruas jari produk agar tingkat SPF yang dijanjikan pada kemasan tercapai. Memakai terlalu sedikit sama saja tidak memakai perlindungan sama sekali.

Perlindungan tabir surya akan luruh setiap 2-3 jam. Produk viral yang baik adalah yang memudahkan reapply, baik dalam bentuk mist, stick, maupun bedak tabur ber-SPF, tanpa merusak riasan atau terasa berat. Berikan waktu 15-20 menit bagi sunscreen membentuk lapisan film pelindung sebelum keluar rumah atau menimpa dengan makeup.

Masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi tren kecantikan di media sosial. Edukasi kesehatan kulit yang benar harus berjalan seiring popularitas produk, bukan sekadar mengikuti arus tanpa verifikasi.

Bagikan
Sumber: jambiseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks