JAMBI — Delapan medali yang diraih mahasiswa UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi di SeIBa International Festival 2026 bukan sekadar angka di papan klasemen. Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Perencanaan Keuangan UIN STS Jambi, Dr. Pahmi.Sy, S.Ag, M.Si, menuliskan catatan bahwa prestasi ini adalah buah dari budaya organisasi yang menghargai kerja keras, kolaborasi, dan inovasi.
Kehadiran Rektor Prof. Kasful, Wakil Rektor 3, Biro Akademik, dan Kabag Akademik di lokasi lomba disebut menjadi motivasi tersendiri bagi para mahasiswa. Ajang SeIBa (Seni, Islam, Budaya, dan Agama) yang digelar di Padang itu mempertemukan peserta dari berbagai perguruan tinggi.
Disiplin dan Doa di Balik Setiap Medali
Dalam catatannya, Dr. Pahmi menekankan bahwa prestasi bukanlah kebetulan. Di balik setiap medali, ada cerita tentang disiplin, kerja keras, pengorbanan, dan doa. Ia menegaskan bahwa mentalitas juara lahir jauh sebelum panggung kemenangan, yaitu saat seseorang memilih terus berlatih ketika yang lain berhenti.
“Mentalitas juara bukan berarti selalu menjadi pemenang. Mentalitas juara adalah cara berpikir dan bersikap yang menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk belajar,” tulis Dr. Pahmi dalam catatan yang dibagikan secara luas.
Dari MTQ hingga Pencak Silat: Keragaman Cabang Lomba
Raihan medali tersebar di berbagai cabang lomba, mulai dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Syarhil Al-Qur’an, Nasyid, Pop Solo, Kaligrafi, Desain Poster, hingga Pencak Silat. Keragaman ini menunjukkan bahwa kampus mampu mengembangkan potensi mahasiswa secara utuh, baik di bidang akademik, seni, olahraga, maupun syiar Islam.
Dalam perspektif antropologi, prestasi adalah hasil dari budaya yang dibangun secara kolektif. Dr. Pahmi mengutip Clifford Geertz yang mengingatkan bahwa kebudayaan adalah sistem makna yang membimbing tindakan manusia. Budaya akademik yang sehat, menurutnya, akan melahirkan generasi bermental juara.
Ayat Al-Qur’an sebagai Pengingat Ikhtiar
Catatan tersebut juga mengutip QS. At-Taubah ayat 105: “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa prestasi adalah buah dari ikhtiar sungguh-sungguh yang disertai kejujuran, integritas, dan keikhlasan.
Ke depan, tantangan dunia disebut akan semakin kompleks. Kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, dan persaingan global menuntut mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan adaptif terhadap perubahan.
Bukan Garis Akhir, Melainkan Titik Awal
Dr. Pahmi menekankan bahwa raihan medali ini tidak boleh dipandang sebagai garis akhir. Prestasi itu harus menjadi pemantik untuk melahirkan lebih banyak inovasi, karya ilmiah, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat. “Juara sejati bukan hanya mereka yang membawa pulang medali, tetapi mereka yang mampu menjadikan kerja keras sebagai kebiasaan, integritas sebagai prinsip hidup, dan pengabdian kepada umat serta bangsa sebagai tujuan perjuangan,” tulisnya.
Raihan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa UIN STS Jambi mulai serius membangun ekosistem pembinaan prestasi yang berkelanjutan. Kampus yang besar, menurut catatan itu, bukan hanya diukur dari megahnya bangunan, tetapi dari banyaknya mahasiswa yang mampu mengharumkan nama almamater di tingkat nasional dan internasional.