Pencarian

Maulid di Jambi: Antara Gemerlap Selawat dan Pertanyaan tentang Teladan di Era Digital

Rabu, 26 Agustus 2026 • 18:57:01 WIB
Maulid di Jambi: Antara Gemerlap Selawat dan Pertanyaan tentang Teladan di Era Digital
Warga menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sebuah masjid di Jambi, Minggu (15/9).

JAMBI — Setiap tahun, umat Islam di Jambi dan seluruh Indonesia kembali dihadiahkan momen untuk mengekspresikan kecintaan dan kerinduan kepada Baginda Junjungan Agung Nabi Muhammad SAW. Melalui peringatan Maulid, berbagai ungkapan kegembiraan ditunjukkan, mulai dari lantunan selawat, ceramah, hingga tabligh akbar yang digelar di masjid-masjid dan perkantoran.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat satu pertanyaan yang barangkali lebih substansial daripada sekadar acara tahunan. Seberapa jauh keteladanan Nabi Muhammad SAW benar-benar dihadirkan dalam kehidupan nyata?

Pergeseran Ukuran Nilai di Zaman Digital

Persoalan ini terasa semakin mendesak ketika masyarakat hidup di era digital, di mana hampir semua orang berlomba untuk terlihat, dikenal, dan menjadi viral. Fenomena yang terjadi hari ini, seseorang tidak hanya ingin berbuat baik, tetapi juga ingin kebaikan itu dilihat banyak orang.

Bukan hanya ingin berbicara, tetapi ingin didengar. Bukan hanya ingin berkarya, tetapi ingin segera mendapat likes, komentar, dan jutaan tayangan. Teknologi hanyalah alat, namun persoalan muncul ketika ukuran nilai hidup perlahan bergeser: dari benar atau salah menjadi viral atau tidak viral.

Popularitas kerap kali lebih cepat dipercaya daripada integritas. Orang dengan banyak pengikut dianggap lebih layak didengar, video yang ditonton jutaan kali dianggap lebih benar. Bahkan sesuatu yang keliru, jika terus diulang dan dibagikan, perlahan dapat terlihat seperti kebenaran.

Nabi Tidak Pernah Mengejar Popularitas

Rasulullah SAW tidak pernah membangun kehidupannya di atas tepuk tangan manusia. Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau dikenal sebagai al-Am?n, orang yang dapat dipercaya. Kemuliaan itu lahir dari kejujuran, amanah, kesabaran, dan kasih sayang, bukan dari banyaknya pengikut.

Pada masa-masa awal dakwah, pengikut Rasulullah sangat sedikit. Namun kebenaran tetaplah kebenaran meskipun hanya sedikit yang mempertahankannya. Pelajaran ini menjadi relevan bagi manusia zaman digital yang sering menilai sesuatu berdasarkan jumlah pengikut, views, atau jumlah penyuka.

Padahal, akhlak tidak pernah diukur dengan statistik. Kejujuran tidak membutuhkan satu juta likes untuk menjadi mulia, dan amanah tidak perlu viral untuk menjadi berharga.

Salah Memilih Idola, Bukan Kekurangan Tokoh

Salah satu persoalan besar generasi saat ini bukanlah kekurangan tokoh, melainkan kebingungan memilih teladan. Setiap hari, layar ponsel menghadirkan ratusan wajah—selebritas, influencer, motivator, hingga politisi—yang berlomba merebut perhatian. Tidak semuanya buruk, banyak yang memberi inspirasi. Namun bahaya muncul ketika seseorang dipuja hanya karena terkenal, bukan karena akhlaknya.

Ketika gaya hidup lebih dikagumi daripada integritas, kemewahan lebih menarik daripada kesederhanaan, dan kontroversi dianggap kecerdasan, di situlah Maulid mengajarkan untuk kembali bertanya: siapa yang sebenarnya layak dijadikan teladan? Teladan bukan sekadar orang yang membuat kita ingin terkenal, melainkan orang yang membuat kita ingin menjadi lebih baik.

Akhlak Digital: Jempol Bisa Menjadi Sumber Dosa

Mencintai Rasulullah di zaman ini juga harus terlihat dalam cara menggunakan teknologi. Jangan sampai seseorang rajin berselawat, tetapi jarinya ringan menyebarkan fitnah. Jangan sampai mengaku mencintai Nabi, tetapi gemar mencaci di kolom komentar.

Perlu disadari bahwa di era ini, lidah bukan satu-satunya alat yang dapat melukai manusia. Satu klik dapat menyebarkan ilmu, tetapi satu klik juga dapat menyebarkan kebohongan. Satu unggahan dapat menguatkan orang yang sedang lemah, tetapi satu unggahan juga dapat menghancurkan marwah seseorang.

Karena itu, akhlak Nabi perlu hadir bukan hanya di masjid atau di atas sajadah, tetapi juga di WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan seluruh ruang digital yang digunakan.

Maulid Bukan Sekadar Agenda Tahunan

Peringatan Maulid akan kehilangan maknanya jika hanya menjadi seremonial belaka. Menghias masjid, mengadakan majelis selawatan, atau membaca sejarah kelahiran Nabi melalui Barzanji dan Marhabanan adalah hal yang baik. Namun semua itu semestinya berujung pada satu hal: lahirnya kembali akhlak Nabi dalam diri setiap Muslim.

Jika setelah peringatan Maulid seseorang masih mudah memfitnah, masih gemar menyebarkan hoaks, dan masih menjadikan aib orang lain sebagai bahan tontonan, maka peringatan tersebut belum sepenuhnya mencapai tujuannya. Maulid seharusnya menjadi momentum refleksi untuk mengembalikan arah hidup, bukan sekadar perayaan tahunan yang berhenti di akhir acara.

Follow halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jambiday.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks