JAMBI — Supersoccer Arena, Kudus, menjadi saksi perjuangan ratusan pesepak bola putri muda dalam ajang HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 yang berlangsung pada 5-12 Juli 2026. Dari sekian banyak peserta, dua nama menarik perhatian: Albianca Raula dan Auliah Arifah. Keduanya datang dari regional berbeda namun memendam ambisi yang sama: berseragam Timnas Indonesia.
Albianca Raula, yang biasa disapa Bianca, berasal dari perwakilan HYDROPLUS Soccer League Jabodetabek bersama Cipta Cendikia FA asal Bogor. Sementara Auliah Arifah membela Akademi Persib Bandung di HYDROPLUS Soccer League Jawa Barat.
Bianca: Dari Sekolah Dasar ke Panggung Internasional
Bianca bukanlah nama baru di kompetisi usia muda. Perjalanannya dimulai dari MilkLife Soccer Challenge 2024 Series 2 Jakarta, lalu terpilih dalam tim yang mewakili Indonesia di Junior Soccer School and League (JSSL) Singapore 7's 2025. Kini, ia bermain sebagai winger di HYDROPLUS Soccer League All-Stars, meski posisi aslinya adalah gelandang.
Fleksibilitas itu menjadi bukti kematangannya. Prestasi demi prestasi membawanya lolos seleksi timnas junior di bawah asuhan Timo Scheunemann. Namun, pemain kelahiran 2013 itu sadar usianya masih muda sehingga belum banyak mendapat kesempatan bermain di level nasional.
"Kalau sudah di timnas itu enggak segampang yang kamu bayangkan," ujar Bianca kepada Bola.com. "Itu semua bagian dari perjuangan Bianca."
Baru lulus dari SDN Kebagusan 03 Jakarta Selatan, Bianca sudah memasang target jangka panjang: menembus Timnas Indonesia Putri dan bermain di Piala Dunia Wanita. "Dengan bersabar tetapi tetap berlatih hingga saat itu tiba, saya sudah tahu apa yang bisa saya lakukan nanti," katanya.
Auliah: Transisi dari Futsal ke Sepak Bola yang Berbuah Manis
Berbeda dengan Bianca, Auliah Arifah memulai kariernya dari lapangan futsal sejak kelas 6 SD. Baru pada 2024 ia beralih ke sepak bola. Hasilnya mengejutkan: pada percobaan pertama mengikuti seleksi timnas kategori usia, Auliah langsung lolos dan bertahan hingga sekarang.
Lingkungan kompetitif di timnas menjadi pembelajaran berharga. "Ketika sudah di timnas, semua pemain bagus," ujar Auliah. Latar belakang futsal memberinya fondasi unik, meski ia harus beradaptasi dengan teknik dasar, taktik, dan cara bermain sepak bola yang berbeda.
Keputusan Auliah menekuni sepak bola didukung penuh orang tuanya. Program pemusatan latihan dan turnamen seperti HYDROPLUS Soccer League All-Stars menjadi ajang pembuktian bahwa transisi dari futsal ke sepak bola bukanlah hambatan, melainkan keunggulan tersendiri.
HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation menjadi panggung bagi Bianca dan Auliah untuk terus mengasah kemampuan. Dua pemain, dua jalan berbeda, satu tujuan: menjadi pesepak bola profesional dan memperkuat Timnas Indonesia.