Pulang dari Jakarta, saya dan istri memutuskan untuk tidak ikut rombongan tur ke Bali. Kantong masih tipis setelah pesta pernikahan. Seorang teman lama yang kerja di Dinas Pariwisata Jambi menyarankan sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya: “Coba ke Kerinci. Udara dinginnya bikin kalian deket, bukan malah bete.”
Tiga tahun kemudian, saya menulis ini sambil ingat betul bagaimana pagi di Danau Gunung Tujuh — kabut tipis, air tenang, dan kami berdua duduk di dermaga kayu tanpa bicara. Dari pengalaman itulah saya yakin: Jambi bukan sekadar tempat transit. Ada beberapa spot yang rasa romantisnya lebih kuat dari foto-foto di Instagram.
1. Danau Gunung Tujuh — Kabut Pagi yang Hanya untuk Dua Orang
Danau ini berada di ketinggian 1.950 mdpl, masuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Aksesnya dari Desa Pelompek, Kabupaten Kerinci. Trekking sekitar 2 jam lewat jalur setapak yang lumayan menanjak — bukan untuk honeymoon yang malas gerak.
Tapi begitu sampai, kamu akan menemukan danau vulkanik dengan air hijau toska. Pagi hari, kabut turun perlahan, suhu bisa 12 derajat Celsius. Bawa termos kopi dan selimut tipis. Saya dan istri duduk di batu besar sambil lihat burung kuau raja lewat — momen yang tidak bisa dibeli dengan harga paket hotel bintang lima.
Tips: jangan datang saat musim hujan Desember-Februari. Jalur licin dan kabut tebal bisa sampai 5 meter jarak pandang. Cek prakiraan cuaca BMKG dulu.
2. Air Terjun Telun Berasap — Suara Air yang Menenggelamkan Semua
Masih di Kerinci, air terjun ini punya ketinggian sekitar 50 meter. Uniknya, airnya tidak jatuh langsung ke kolam, tapi pecah di tebing tengah, menciptakan semburan kabut air yang terlihat seperti asap — makanya dinamai “Telun Berasap”.
Bagi pasangan yang suka petualangan ringan, trekking ke sini hanya 30 menit dari pintu masuk. Kolam di bawah air terjun cukup dangkal untuk berendam. Suara gemuruh air membuat obrolan tidak terlalu diperlukan — cukup duduk, saling lihat, dan biarkan alam yang bicara.
Waktu terbaik adalah pagi hari sekitar pukul 8-10, sebelum pengunjung lain datang. Bawa sandal gunung karena batu-batu licin. Jangan lupa jas hujan lipat — cuaca di Kerinci bisa berubah tiba-tiba.
3. Bukit Kayu Aro — Sunrise yang Tidak Kalah dari Bromo
Bukit Kayu Aro berada di Kecamatan Kayu Aro, Kerinci. Dari sini, kamu bisa melihat Gunung Kerinci dari sisi timur — siluetnya jelas saat matahari terbit. Tidak perlu trekking berat; cukup naik mobil sampai titik parkir, lalu jalan kaki 5 menit.
Saya pernah ke sini bersama istri pada Juni lalu. Suhu pagi sekitar 14 derajat. Kami duduk di bangku kayu yang disediakan pengelola sambil minum teh jahe hangat. Yang bikin romantis: tidak ada keramaian seperti di Bukit Bintang. Hanya beberapa pasangan lain yang juga sengaja datang untuk momen privat.
Tips: datang sebelum jam 5 pagi. Bawa senter atau headlamp karena jalan menuju titik pandang belum semuanya berpenerangan. Kenakan jaket tebal — angin pagi di ketinggian 1.400 mdpl menusuk tulang.
4. Taman Nasional Berbak — Suasana Hutan Rawa yang Sepi dan Tenang
Kalau kamu dan pasangan lebih suka suasana hutan daripada gunung, Taman Nasional Berbak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur bisa jadi pilihan. Ini adalah hutan rawa gambut terluas di Asia Tenggara. Bukan tempat untuk foto estetik ala Maldives, tapi untuk pengalaman yang lebih dalam: mendengar suara burung langka, melihat bekantan, dan merasakan bagaimana rasanya benar-benar terisolasi dari dunia.
Akses dari Kota Jambi sekitar 2 jam perjalanan darat ke Desa Sungai Itam. Dari sana, naik perahu motor menyusuri Sungai Air Hitam — airnya berwarna hitam pekat karena tannin dari gambut. Suasana sunyi, hanya suara mesin perahu dan kicauan burung.
Tips: sewa perahu dengan pemandu lokal — jangan nekat sendiri. Bawa lotion anti nyamuk yang kuat; nyamuk di rawa gambut ganas. Waktu terbaik adalah April-Oktober saat musim kemarau, karena air sungai surut dan satwa lebih mudah terlihat.
5. Kota Jambi — Menikmati Malam di Tepi Batanghari
Bukan hanya alam. Kota Jambi punya sisi romantis yang sering diabaikan. Cobalah duduk di kawasan Tepian Batanghari, tepatnya di sekitar Jalan Sultan Thaha. Malam hari, lampu-lampu jembatan Batanghari memantul di air. Banyak pedagang kaki lima yang menjual pempek dan es krim kelapa muda — sederhana, tapi terasa intim.
Alternatif lain: naik perahu wisata menyusuri Batanghari. Perahu berangkat dari dermaga di dekat Masjid Agung Al-Falah. Durasi sekitar 30-45 menit, cukup untuk melihat Kota Jambi dari sisi yang berbeda. Tidak perlu bicara banyak — biarkan angin sungai dan gemerlap lampu kota yang bicara.
Tips: perahu wisata biasanya beroperasi sore hingga malam. Tanyakan jadwal ke pengelola di dermaga — jam operasional bisa berubah. Bawa jaket tipis karena angin sungai cukup kencang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Kapan waktu terbaik untuk honeymoon di Jambi?
Musim kemarau, sekitar April hingga Oktober. Kerinci dan sekitarnya lebih bersahabat saat tidak hujan. Jalur trekking kering, pemandangan kabut pagi lebih jelas.
2. Apakah destinasi di Jambi ramah untuk honeymoon tanpa kendaraan pribadi?
Untuk Kerinci, ada bus dari terminal Kota Jambi ke Kota Sungai Penuh. Tapi untuk ke Danau Gunung Tujuh atau Air Terjun Telun Berasap, sewa mobil atau motor lebih praktis. Di Kota Jambi, transportasi umum seperti angkot dan ojek online tersedia.
3. Berapa biaya masuk destinasi-destinasi ini?
Harga bervariasi dan bisa berubah. Cek langsung ke pos pendakian atau pengelola setempat sebelum berangkat. Jangan percaya info harga dari blog tahun lalu — minta konfirmasi lewat telepon atau WhatsApp.
4. Apakah ada penginapan romantis di dekat destinasi?
Di Kerinci, banyak homestay dan villa di sekitar Kayu Aro dan Sungai Penuh. Pilih yang punya pemanas air — suhu malam bisa 10 derajat. Di Tanjung Jabung Timur, penginapan terbatas; sebaiknya bawa perlengkapan tidur sendiri jika ingin stay di desa.
5. Apakah Jambi aman untuk bulan madu?
Aman. Masyarakat Jambi ramah. Tapi seperti di daerah pegunungan mana pun, waspada dengan jalur yang licin dan cuaca ekstrem. Jangan hiking sendirian tanpa pemandu — lebih baik bayar jasa lokal daripada tersesat.
Jambi mungkin tidak sepopuler Bali atau Lombok. Tapi justru di situlah letak romantisnya: tidak ada antrean, tidak ada hiruk-pikuk turis, hanya kamu, pasanganmu, dan alam yang masih liar. Saya dan istri pulang dari perjalanan itu dengan satu keyakinan: honeymoon tidak perlu mahal, yang penting adalah ruang untuk saling mendengar — dan Jambi memberi ruang itu.