JAMBI — Uber mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi Delivery Hero yang berbasis di Jerman pada pekan lalu. Akuisisi ini akan menjadikan Uber sebagai salah satu platform pengiriman makanan terbesar di luar China.
Nilai dan Struktur Akuisisi
Nilai transaksi mencapai US$14,8 miliar dalam bentuk saham. Uber, yang sudah menjadi pemegang saham terbesar Delivery Hero, menetapkan ambang batas penerimaan minimal 50% plus satu saham dari modal saham beredar Delivery Hero.
Prosus, pemegang saham utama lainnya, telah setuju untuk menjual 17% sahamnya. Kesepakatan ini belum final dan masih akan menghadapi pengawasan regulasi.
Dampak pada Peta Persaingan Global
Jika akuisisi rampung, Uber akan menggandakan jejak globalnya. Posisi ini memungkinkan Uber bersaing lebih ketat dengan DoorDash dan Just Eat Takeaway.
Dalam pernyataan resmi, CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan, "Bersama, kami akan menggandakan jumlah pasar di mana kami menawarkan layanan mobilitas dan pengiriman, memperluas platform yang terbukti dan kami yakini akan menciptakan nilai jangka panjang yang signifikan bagi pelanggan dan pemegang saham."
Penjualan Bisnis di 14 Negara
Secara terpisah, Delivery Hero juga setuju menjual bisnisnya di 14 negara tempat Uber Eats sudah beroperasi. Pembelinya adalah firma investasi asal New York, SSW Partners, dengan nilai US$1,6 miliar (sekitar Rp 24,8 triliun).
Langkah ini menunjukkan strategi Uber untuk mengkonsolidasi pasar dan menghindari tumpang tindih operasional di wilayah-wilayah tertentu.
Konteks untuk Pengguna Indonesia
Meskipun Delivery Hero tidak beroperasi langsung di Indonesia, akuisisi ini tetap relevan. Uber Eats sebelumnya hengkang dari Indonesia pada 2018 setelah menjual bisnisnya ke Grab.
Namun, ekspansi global Uber bisa mempengaruhi kebijakan harga dan teknologi platform pengiriman makanan di Asia Tenggara. Model bisnis dan inovasi yang dihasilkan dari skala global ini kerap menjadi acuan bagi pemain lokal seperti GoFood dan GrabFood.
Kesepakatan ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dan regulator di berbagai negara. Pengamat industri memperkirakan proses pengkajian bisa memakan waktu beberapa bulan ke depan.