JAMBI — UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi mengoperasikan Ma’had Al-Jami’ah, sebuah program pendidikan pesantren berbasis kampus yang dirancang untuk membentengi mahasiswa dari krisis akhlak di era disrupsi digital. Gagasan pendiriannya lahir pada tahun 2006, saat Prof. Mukhtar Latif menjabat sebagai rektor termuda di Indonesia pada usia 38 tahun.
Program ini merupakan inovasi pionir yang menjadikan UIN STS Jambi sebagai kampus kedua di Indonesia setelah UIN Maliki Malang yang menerapkan model integrasi pendidikan tinggi dan pesantren. "Ada kegelisahan sosiologis melihat mahasiswa yang berada dalam fase transisi krusial: dari masa remaja akhir menuju dewasa awal. Ini adalah fase rapuh di mana lingkungan luar yang toksik dengan mudah bisa mengaburkan masa depan mereka," tulis Prof. Mukhtar Latif, Ketua Senat dan Guru Besar UIN STS Jambi, dalam keterangan resminya.
Dua Gedung Megah Senilai Rp15 Miliar untuk 500 Mahasantri
Lompatan fisik bersejarah terwujud pada tahun 2006 melalui dukungan penuh Kementerian Perumahan Rakyat. Dua gedung megah berlantai empat senilai Rp15 miliar resmi berdiri kokoh, siap menampung hingga 500 mahasantri.
Ma’had Al-Jami’ah tidak sekadar urusan infrastruktur. Di dalamnya, kurikulum integratif diamanatkan untuk menempah akhlak mahasiswa sekaligus mendalami Al-Qur’an dan kitab klasik (turats). Tradisi emas ini dikolaborasikan dengan penguasaan teknologi informasi (IT) mutakhir serta keahlian bahasa Arab dan Inggris.
Pendidikan Karakter ala Pesantren: Akar Tunggang Moralitas Nusantara
Model pendidikan pesantren dinilai sebagai akar tunggang kultural yang menopang moralitas Nusantara. Sistem ini menanamkan kemandirian, kesederhanaan, dan keikhlasan sebagai hukum alam yang dijalani setiap hari, bukan sekadar teori di atas kertas.
Prof. Mukhtar menekankan bahwa karakter tidak bisa diajarkan melalui layar monitor secara instan. "Ia harus dihidupkan lewat keteladanan yang disentuh selama 24 jam sehari," tulisnya mengutip Lickona (2021). Pendidikan berbasis boarding atau pesantren menjadi sangat strategis karena tidak hanya mentransfer isi kepala, tetapi juga menata apa yang ada di dalam dada.
Ketegangan Kreatif: Pesantren Tradisional vs Boarding School Modern
Ada titik temu menarik antara pesantren tradisional dan sistem boarding school modern. Pada model pesantren tradisional, pusat otoritas bertumpu pada sentralitas figur kiai sebagai patron moral utama, dengan fokus keilmuan pada pendalaman teks klasik atau kitab kuning.
Ma’had Al-Jami’ah UIN STS Jambi hadir sebagai jembatan antara kedua model tersebut. Ketika sebuah lembaga pendidikan tinggi mampu mengawinkan kecerdasan akademik dengan keluhuran spiritual dalam satu ekosistem, di situlah investasi manusia yang sesungguhnya sedang dibangun demi masa depan bangsa.