JAMBI — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jambi mengubah haluan penyaluran zakat. Kini, 70 persen dari total postur pembiayaan dialokasikan untuk program pemberdayaan produktif, bukan lagi bantuan konsumtif. Hanya 30 persen sisanya yang masih bersifat konsumtif.
Ketua Baznas Provinsi Jambi, Muhammad Amin, menyatakan perubahan ini bukan sekadar angka. "Intinya hari ini Baznas tidak memberikan bantuan konsumtif, tapi diarahkan ke hal yang produktif. Mustahik yang tadinya tidak mampu sampai menjadi mandiri," ujarnya di Jambi, Rabu.
Bukan Sekadar Modal, Tapi Pendampingan Intensif
Penerima zakat tidak langsung dilepas setelah mendapat modal. Baznas membekali mereka dengan pengetahuan dan pendampingan intensif. Targetnya jelas: dalam dua tahun, roda ekonomi penerima manfaat harus berputar hingga mereka mampu menyisihkan sebagian rezekinya untuk berzakat.
Pendekatan ini sudah diuji di lapangan. Program bantuan modal untuk usaha ritel tradisional (z-mart), sektor perbengkelan (z-auto), hingga budidaya ayam (z-chicken) menjadi beberapa contoh konkret. Bantuan modal UMKM lain juga digulirkan untuk memperkuat ekonomi warga di desa-desa.
Lima Pilar Kesejahteraan: Dari Kesehatan hingga Ketakwaan
Baznas Jambi tidak hanya fokus pada urusan ekonomi. Lembaga ini meluncurkan lima program unggulan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan: Jambi Sehat, Jambi Peduli, Jambi Sejahtera, Jambi Cerdas, dan Jambi Takwa. Kelima pilar ini dirancang agar masyarakat merasakan manfaat zakat secara langsung dan menyeluruh.
Salah satu bukti keberhasilan program ini terlihat di Taman Banjuran Budayo, Kota Jambi. "Bantuan modal yang sudah dirasakan manfaatnya seperti di taman Banjuran Budayo Kota Jambi. Di sana, pelaku usaha yang sebelumnya mendapat bantuan, kini telah menjadi pemberi zakat," tutup Amin.
Dengan skema ini, Baznas Jambi berharap dapat memutus rantai ketergantungan dan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih mandiri di kalangan mustahik.