JAMBI — Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah lahir di Desa Lubuk Ruso, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari pada 30 September 1936 dan wafat 25 Januari 2016. Ia mengawali pendidikan di Madrasah dan Pesantren Nurul Imam Jambi Kota Seberang, kemudian menyelesaikan S1 di STAIN STS Jambi dan LAN Jakarta, serta meraih gelar doktor dari Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kariernya membentang dari pegawai pemda hingga menjadi Rektor IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi periode 1994–1998. Di bawah kepemimpinannya, kampus mengalami kemajuan yang menjadi fondasi transformasi menjadi UIN STS Jambi. Ia juga dikenal sebagai aktivis—pernah menjabat Ketua HMI Cabang Jambi, Ketua KNPI Kota Jambi, Ketua AMPI, dan Ketua DPRD Kota Jambi.
Dakwah dengan Bahasa Melayu Dusun
Dalam menyampaikan dakwah, Prof. Sulaiman memiliki kekhasan tersendiri: menggunakan Bahasa Asli Jambi atau yang disebutnya bahasa Melayu dusun. Menurutnya, dakwah harus disampaikan dengan bahasa yang dimengerti audiens agar pesan cepat dipahami dan terasa dimiliki masyarakat.
Pendekatan ini juga bagian dari upaya mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal serta kekayaan budaya bangsa. Ia menegaskan konsep "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan kitabullah" melalui keterlibatannya di Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi.
Kiprah di MUI dan Pendidikan
Selama 20 tahun, Prof. Sulaiman menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jambi. Perannya sebagai ulama yang membimbing masyarakat meliputi forum keagamaan, ceramah, dan kegiatan sosial yang menanamkan nilai-nilai Islam moderat dan inklusif.
Di dunia akademik, ia tercatat mengajar di berbagai fakultas di UIN STS Jambi, pascasarjana, serta menjadi dosen tamu di Universitas Jambi, UNBARI, APDN, dan bahkan di Malaysia. Karya-karya intelektualnya berupa buku fiqih dan ushul fiqih telah menjadi bahan ajar, meski masih banyak makalah tentang hukum dan kepemimpinan yang belum diterbitkan.
Kepribadian Sederhana dan Penuh Keteladanan
Kepribadiannya yang sederhana, bijaksana, dan penuh keteladanan membuatnya dicintai mahasiswa, dosen, dan masyarakat luas. Ia memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter, akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Suatu ketika, saat penulis yang merupakan mahasiswa sekaligus wartawan kampus salah menulis tentang dirinya, Prof. Sulaiman menasihati: "Baik-baik menulis, dan jangan menghilangkan jejak orang-orang yang berjasa terdahulu." Nasihat itu mencerminkan komitmennya terhadap integritas dan penghargaan pada sejarah.
Warisan Pemikiran untuk Generasi Penerus
Warisan pemikiran dan pengabdian Prof. Dr. KH. Sulaiman Abdullah terus hidup di berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang pernah ia bina. Generasi penerus diharapkan meneladani semangat keilmuan, integritas, dan dedikasinya dalam membangun masyarakat yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.