JAMBI — Sebanyak puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKKAMA) FEB UGM mendapat kesempatan menyelami operasional hilir migas di Gedung Patraloka, Jakarta. Materi yang disampaikan tidak hanya teori, melainkan mencakup pengelolaan rantai pasok secara menyeluruh — mulai dari operasional kilang, manajemen armada kapal pengangkut, hingga pengelolaan terminal BBM dan LPG.
Vice President Business Development & Subsidiary PT Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menekankan bahwa komitmen perusahaan saat ini tidak hanya soal distribusi. “Fokus utama kami adalah memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat dengan mengoptimalkan efisiensi rantai pasok operasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (24/5/2026).
Transisi Energi Hijau: Biosolar B40 hingga Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan
Tak hanya soal bisnis konvensional, Pertamina juga memaparkan peta jalan transisi energi hijau yang tengah dijalankan. Mahasiswa diperkenalkan pada implementasi Biosolar B40, campuran biodiesel 40 persen yang sudah mulai diaplikasikan di sektor transportasi dan industri.
Lebih jauh, perusahaan juga mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) — bahan bakar pesawat berbasis sumber daya terbarukan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk menekan emisi karbon, sejalan dengan target net zero emission pemerintah.
Sinergi Industri dan Akademik untuk Cetak Talenta Energi
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara dunia usaha dan perguruan tinggi. Bagi mahasiswa manajemen FEB UGM, wawasan tentang bagaimana BUMN energi mengelola rantai pasok dan beradaptasi dengan tren dekarbonisasi menjadi bekal berharga sebelum terjun ke dunia kerja.
Pertamina Patra Niaga sendiri merupakan subholding komersial Pertamina yang mengelola bisnis hilir migas, termasuk distribusi BBM, LPG, dan avtur ke seluruh Indonesia. Dengan keterlibatan langsung generasi muda dalam diskusi ini, perusahaan berharap muncul ide-ide segar untuk mendukung ketahanan energi nasional di masa depan.