Pencarian

IHSG Diprediksi Sideways di Tengah Meredanya Inflasi AS dan Ketegangan Timur Tengah, Investor Tunggu Laporan Emiten

Kamis, 16 Juli 2026 • 15:21:31 WIB
IHSG Diprediksi Sideways di Tengah Meredanya Inflasi AS dan Ketegangan Timur Tengah, Investor Tunggu Laporan Emiten
IHSG dibuka menguat 28,51 poin ke posisi 6.068 pada perdagangan Kamis.

JAKARTA — IHSG dibuka menguat 28,51 poin atau 0,47 persen ke posisi 6.068 pada Kamis. Indeks LQ45 juga naik 2,61 poin atau 0,44 persen ke posisi 601,50. Namun, Kiwoom Research menyarankan investor tetap menerapkan trailing stop untuk mengamankan laba yang sudah terbentuk.

Data Inflasi AS Mereda, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menipis

Dari Amerika Serikat, data Producer Price Index (PPI) Juni 2026 memberikan angin segar. Headline PPI AS turun menjadi 0,3 persen month to month (mtm), sementara core PPI naik tipis 0,2 persen (mtm). Secara tahunan, headline PPI tercatat 5,5 persen dan core PPI 4,7 persen—lebih rendah dari ekspektasi pasar.

“Data itu memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi mulai mereda, sehingga peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan akhir Juli 2026 turun menjadi sekitar 10 persen,” ujar Liza dalam kajiannya, Kamis.

Ketegangan Timur Tengah dan Ancaman Perang Dagang AI

Di sisi lain, risiko geopolitik kembali meningkat. AS melancarkan serangan terhadap Iran dan Presiden Donald Trump mengancam akan memperluas aksi militer jika Iran tidak kembali ke meja perundingan. Eskalasi ini mendorong kenaikan harga minyak dan menambah premi risiko di pasar global.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menyebut perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan permintaan chip dan harga komponen teknologi. “Perkembangan AI mulai menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam arah kebijakan moneter,” imbuh Liza. Hal ini bisa menekan inflasi dalam beberapa kuartal ke depan.

Pemerintah Siapkan Pusat Keuangan Global dengan Insentif Pajak 0 Persen

Dari dalam negeri, pemerintah tengah menyiapkan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Kawasan khusus ini menawarkan tarif pajak 0 persen hingga 50 tahun, kepastian hukum, dan penyederhanaan regulasi. Targetnya: menarik kembali investasi yang selama ini ditempatkan melalui special purpose vehicle (SPV) di luar negeri, serta menyaingi pusat keuangan seperti Singapura, Dubai, dan Labuan.

PFII akan memfasilitasi pendirian investment bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, hingga lembaga jasa keuangan lainnya. Tujuannya memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia.

BI Kian Dominan di Pasar Obligasi, Yield SBN Masih Tinggi

Porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia (BI) meningkat menjadi 27,41 persen per 10 Juli 2026, naik dari 22,61 persen pada akhir 2025. Sementara itu, kepemilikan perbankan dan investor asing terus menurun.

“Meski mampu meredam volatilitas, kondisi itu juga mencerminkan meningkatnya ketergantungan pembiayaan pemerintah terhadap bank sentral,” kata Liza. Ia menambahkan, yield SBN tenor 10 tahun yang masih bertahan di level 7,28 persen menjadi indikasi tekanan pasar obligasi belum sepenuhnya reda.

Bursa Global Variatif, Investor Tunggu Kinerja Emiten Kuartal II

Pada perdagangan Rabu (15/7), bursa Eropa bergerak variatif: Euro Stoxx 50 melemah 0,15 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,13 persen, DAX Jerman melemah 0,59 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,19 persen. Di Wall Street, S&P 500 menguat 0,38 persen ke 7.572,40, sementara Nasdaq Composite melemah 0,28 persen ke 29.502,60.

Bursa Asia pagi ini juga bervariasi. Nikkei melemah 2,69 persen ke 66.900, Shanghai melemah 0,52 persen ke 3.934,95, Hang Seng menguat 1,67 persen ke 25.091, dan Strait Times melemah 0,40 persen ke 5.537,77.

“Investor kini mengalihkan fokus pada musim laporan keuangan kuartal II, di mana kinerja emiten teknologi dan AI diperkirakan menjadi penentu arah pasar selanjutnya,” pungkas Liza.

Bagikan
Sumber: jambi.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks