JAKARTA — Penguatan tipis ini terjadi di tengah tidak adanya rilis data ekonomi utama dalam negeri yang secara langsung memengaruhi pergerakan rupiah. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan, langkah BI memberikan keyakinan kepada pelaku pasar bahwa bank sentral memiliki instrumen yang memadai untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.
BI Pantau Pasar Valas Lewat Kantor Perwakilan di Luar Negeri
Bank Indonesia juga disebut menyampaikan bahwa pemantauan pasar valuta asing dilakukan secara berkelanjutan melalui kantor perwakilan di luar negeri. Langkah ini didukung perluasan instrumen operasi moneter sebagai bantalan terhadap tekanan eksternal.
“Tidak terdapat rilis data ekonomi utama yang secara langsung memengaruhi pergerakan rupiah. Namun, sentimen positif datang dari pernyataan Bank Indonesia yang menegaskan telah memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore sejak April 2026,” ungkap Amru kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Dolar AS Tertekan Inflasi AS yang Melambat ke 3,5 Persen
Rupiah juga memperoleh dukungan dari melemahnya dolar AS setelah rilis data inflasi Amerika Serikat. Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026, di bawah ekspektasi pasar karena penurunan tajam harga energi mendorong penurunan bulanan terbesar sejak April 2020.
Tingkat inflasi tahunan tersebut melambat dari 4,2 persen pada Mei 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS turun 0,4 persen pada Juni dari bulan sebelumnya, setelah naik 0,5 persen pada Mei. Adapun inflasi inti tak berubah secara bulanan dan melambat menjadi 2,6 persen per tahun dari 2,9 persen pada Mei.
“Ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Kondisi tersebut menekan permintaan terhadap dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat,” kata Amru.