JAMBI — Pelatihan yang berlangsung dalam pertemuan rutin organisasi itu tidak hanya mengajarkan teknik pemasangan, tetapi juga mengupas filosofi di balik setiap lipatan kain tengkuluk. Narasumber Nelazabet dari P2B memandu peserta memahami makna simbolis tengkuluk sebagai identitas perempuan Melayu Jambi.
Filosofi Tengkuluk: Bukan Sekadar Penutup Kepala
Dalam sesi materi, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis tengkuluk dan makna di balik bentuknya. Setiap lipatan memiliki nama dan filosofi tersendiri yang mencerminkan nilai-nilai adat Melayu Jambi.
“Melalui pelatihan ini kami ingin memperkuat peran perempuan dalam menjaga warisan budaya daerah, terutama penggunaan tengkuluk sebagai identitas perempuan Melayu Jambi,” ujar Ketua DWP Perumda Tirta Mayang Kota Jambi, Ny Arina Arianto.
Peserta Antusias Praktik Langsung Teknik Pemasangan
Setelah sesi teori, para anggota DWP langsung mempraktikkan teknik pemasangan tengkuluk yang benar sesuai tradisi. Mereka terlihat antusias saling membantu dan belajar dari narasumber.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto, mengapresiasi inisiatif DWP yang mengangkat budaya lokal dalam kegiatan organisasi. Menurutnya, pelestarian budaya harus terus didorong di tengah arus modernisasi.
“Kegiatan ini sangat positif karena selain mempererat silaturahmi antaranggota Dharma Wanita, juga menjadi sarana melestarikan budaya daerah agar tetap dikenal generasi muda,” kata Arianto.
Harapan Keberlanjutan Program Pelestarian Budaya
Pihak perusahaan berharap pelatihan serupa bisa menjadi agenda rutin, tidak hanya di lingkungan DWP Tirta Mayang tetapi juga di masyarakat luas. Pelestarian tengkuluk dinilai penting sebagai warisan budaya yang mulai jarang digunakan sehari-hari.
Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya memperkenalkan kembali tengkuluk Melayu Jambi kepada generasi muda. Dengan memahami filosofi dan teknik pemasangan yang benar, diharapkan rasa bangga terhadap budaya lokal semakin tumbuh.