Floating Loss Telkomsel di GOTO Tembus Rp 5,22 Triliun, Manajemen Buka Suara soal Strategi

Penulis: Tengku Syafri  •  Senin, 07 September 2026 | 13:20:31 WIB
Manajemen Telkomsel menyatakan tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam mengelola investasi di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) meskipun mencatatkan floating loss Rp 5,22 triliun.

JAMBI — Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan, mengungkapkan bahwa pihaknya tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam mengelola investasi di emiten teknologi tersebut. Evaluasi terhadap kinerja investasi dan realisasi sinergi akan terus dilakukan secara disiplin.

"Setiap keputusan terkait investasi akan diambil secara pruden berdasarkan kajian yang komprehensif serta mengikuti prinsip data kelola dan mekanisme persetujuan yang berlaku," kata Daru dalam paparan publik, Senin (7/9).

Kemitraan Strategis vs Tekanan Pasar

Daru menjelaskan, investasi di GOTO bukan sekadar penempatan modal, melainkan bagian dari skema kerja sama jangka panjang. Fokus utama Telkomsel adalah optimalisasi potensi, sinergi bisnis, dan penciptaan nilai bagi kedua perusahaan.

Menurut dia, fluktuasi harga saham GOTO lebih mencerminkan dinamika pasar secara umum dan tidak sepenuhnya merepresentasikan manfaat strategis yang diperoleh dari kolaborasi kedua entitas. Meski demikian, tekanan jual di pasar saham tetap terlihat nyata.

Pada perdagangan siang tadi, saham GOTO masih bertengger di posisi Rp 50 per unit dengan antrean jual (sell queue) mencapai 403 juta lot. Posisi ini jauh di bawah harga perolehan saham Telkomsel yang mencapai Rp 270 per saham.

Berapa Jumlah Kepemilikan dan Potensi Kerugiannya?

Telkomsel saat ini menggenggam sekitar 23,72 miliar lembar saham GOTO atau setara kepemilikan 1,99%. Dengan selisih antara harga perolehan dan harga pasar saat ini, potensi kerugian yang belum direalisasikan (unrealized loss) mencapai angka Rp 5,22 triliun.

Meskipun harga pasar sedang tertekan, posisi ini belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian Telkom. Terdapat perbedaan metode penilaian yang digunakan untuk mencatat investasi tersebut.

Perbedaan Nilai Wajar dalam Laporan Keuangan

Dalam catatan laporan keuangan, investasi Telkomsel pada GOTO dinilai menggunakan metode nilai wajar (fair value) level 1 dengan acuan harga pasar pada periode pelaporan. Namun, angkanya berbeda dengan harga di lapangan saat ini.

Pada 31 Desember 2025, nilai wajar saham GOTO yang digunakan Telkomsel tercatat sebesar Rp 64 per saham. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi 31 Desember 2024 yang berada di level Rp 70 per saham.

Berdasarkan penilaian tersebut, Telkomsel membukukan kerugian yang belum direalisasi atas perubahan nilai wajar investasi masing-masing sebesar Rp 142 miliar pada 2025 dan Rp 380 miliar pada 2024. Kerugian ini dicatat dalam laporan laba rugi konsolidasian sebagai unrealized loss.

Apa Artinya bagi Investor TLKM?

Bagi pemegang saham Telkom, fluktuasi nilai investasi di GOTO memang mempengaruhi kinerja bottom line perusahaan secara akuntansi. Namun, manajemen menekankan bahwa dampak tersebut bersifat sementara dan tidak mengubah fundamental kemitraan.

Keputusan untuk mempertahankan atau melepas saham GOTO ke depan akan sangat bergantung pada hasil evaluasi berkala serta perkembangan sinergi bisnis yang telah dijalankan. Pergerakan harga saham GOTO di pasar sekunder tetap menjadi variabel yang perlu dicermati oleh investor.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top