JAMBI — Glasgow, Skotlandia — Bukan selebrasi liar yang paling berkesan dari keberhasilan Skotlandia lolos ke Piala Dunia 2026. Justru potongan video dari dalam ruang ganti Hampden Park usai kemenangan atas Denmark menjadi petunjuk paling jelas tentang siapa Steve Clarke sebenarnya.
Dalam rekaman itu, para pemain dan staf berjejer di tepi ruangan, beberapa berdiri di bangku dan menjulurkan kepala untuk melihat pelatih kepala yang sedang berpidato. Kaos selebrasi sudah dikenakan, botol bir sudah di tangan. Namun pesta sejenak terhenti. Semua mata tertuju pada Clarke.
Ada sedikit getaran emosi dalam suara Clarke, tapi ia tetap tenang saat menjelaskan betapa besarnya pencapaian itu: lolos ke Piala Dunia putra pertama sejak 1998. Para pemain hampir tidak bergerak. Sampai Clarke mengumumkan mereka bebas menyerbu salah satu bar utama Glasgow. Senyum lebar merekah. Kekacauan pun pecah.
Bagi mereka yang mengenal dan bekerja dengan bos Skotlandia, momen kecil itu mungkin merangkum karakternya: tenang, terukur, dengan sedikit humor yang menembus penampilan luar yang kadang kaku.
Clarke telah dicap sebagai pria dengan sedikit kata sepanjang karier profesionalnya. Jawaban singkatnya kepada wartawan dan kecenderungan untuk tidak banyak tersenyum membuatnya terjebak dalam stereotip pria Skotlandia yang muram.
Namun, Pat Nevin, teman Clarke sejak di Chelsea, mengatakan ia justru seperti itu sejak menjadi pemain. "Ketika dia mengatakan sesuatu, semua orang diam dan mendengarkan," jelas Nevin.
Gary Dicker, yang bermain untuk Clarke di Kilmarnock antara 2017 dan 2019, mengonfirmasi hal yang sama. Pelatih itu jarang bicara selama enam bulan pertama masa kepemimpinannya, tapi dampaknya signifikan. "Dia hanya berbicara saat perlu, tapi saya pikir dia memindai dan menyerap semua yang perlu dia ketahui," kata Dicker.
Jangan salah mengartikan sikap stoik di luar sebagai kurangnya kepekaan terhadap momen. Sebelum laga melawan Denmark, Clarke berbicara di hotel tim. Pelatih yang biasanya datar itu memilih menggunakan kekuatan emosi.
Dia menyentuh latar belakang dan kisah pribadinya, membawa pemain melewati suka dan duka perjalanan tujuh tahun bersama. "Saat dia selesai, banyak pemain melompat dari kursi dan siap berperang," kenang Ryan Christie. "Saya hampir menangis, bung, jujur," tambah Scott McTominay.
Kesetiaan adalah kata yang paling sering disebut — baik oleh pendukung setia maupun kritikus paling keras — saat menggambarkan Clarke. Sejak mengambil alih pada 2019, ia membangun inti tim yang solid. Kapten Andy Robertson, John McGinn, McTominay, Kenny McLean, John Souttar, dan Scott McKenna semuanya ada di skuad pertamanya dan kini masuk dalam grup Piala Dunia.
Dari tim yang nyaris terpuruk usai kekalahan 3-0 dari Kazakhstan, Clarke membawa Skotlandia ke dua Piala Eropa dan kini Piala Dunia. Prestasi yang membuatnya naik ke posisi legendaris dalam sepak bola Skotlandia — dengan cara yang tenang dan tidak mencolok. Mungkin itu yang terbaik baginya.