KERINCI – Masyarakat Empat Desa Belui mulai bersiap menyambut pelaksanaan Kenduri Sko Tigo Luhah Belui 2026 yang akan mencapai puncaknya pada 21 Juni 2026 mendatang. Tradisi adat yang sarat makna ini menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Berbagai persiapan kini tengah dilakukan panitia, termasuk penyusunan rangkaian agenda adat yang akan berlangsung selama hampir dua pekan sebelum hari puncak pelaksanaan.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, kegiatan diawali pada 8 Juni 2026 dengan rapat divisi pengangkatan Sko. Selanjutnya, pada 10 Juni akan dilaksanakan Duduk Tigo Luhah untuk menetapkan para pemangku adat yang akan menerima amanah adat.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada 12 Juni melalui prosesi Sambang Kubu atau ziarah ke makam para leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu yang telah mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi saat ini.
Pada 14 Juni akan digelar prosesi Nuham Panandan dan Mandai Balenge di Umah Gedang, yang dilanjutkan dengan Asap Nagehai sebagai bagian dari tahapan adat yang masih terus dipertahankan oleh masyarakat Belui.
Selanjutnya, pada 16 Juni akan dilakukan pengukuhan Sko bagi para pemangku adat. Prosesi ini menjadi salah satu tahapan penting dalam Kenduri Sko karena menandai penyerahan amanah dan tanggung jawab adat kepada tokoh-tokoh yang dipercaya menjaga kelestarian adat istiadat.
Menjelang puncak acara, masyarakat akan melaksanakan Arah Aju dan Manjagak Keba pada 18 Juni. Kemudian pada 20 Juni dilanjutkan dengan Manjagak Keba, penyembelihan hewan, kegiatan Anak Batino Batungku jarang Bapiyuk gedang, serta Malemang Nagehai yang menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat.
Panitia Kenduri Sko Tigo Luhah Belui mengajak seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam setiap rangkaian kegiatan demi menyukseskan pelaksanaan acara adat tersebut.
“Melalui Kenduri Sko ini, kami mengajak seluruh masyarakat Empat Desa Belui untuk bersatu, bergotong royong, dan bersama-sama memeriahkan setiap prosesi adat hingga acara puncak nanti,” ujar salah seorang panitia.
Tahun ini, Kenduri Sko Tigo Luhah Belui mengusung tema “Adat Dijunjung, Budaya Dilestarikan”. Tema tersebut menjadi cerminan tekad masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai adat dan budaya di tengah perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar perayaan adat, Kenduri Sko merupakan simbol identitas masyarakat Kerinci yang mengandung nilai persatuan, penghormatan kepada leluhur, serta komitmen untuk mewariskan budaya kepada generasi mendatang agar tetap hidup dan lestari.