JAMBI — Pemerintah resmi mengambil alih 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh dari konsorsium BUMN, dan PT Wijaya WIKA (Persero) Tbk menilai langkah itu bakal mengangkat kinerja keuangannya. Selama ini WIKA harus menanggung beban kerugian KCIC dalam laporan keuangannya karena masih tercatat sebagai pemegang saham. Pengalihan ke unit Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan diproyeksikan menghapus tekanan itu dari neraca perseroan.
Masalahnya, KCIC masih membukukan imbal hasil negatif. Kondisi itu membuat laporan laba rugi WIKA ikut tertekan setiap periode pelaporan.
Beban Equity Negatif yang Selama Ini Menekan WIKA
Mulyadi menjelaskan konsolidasi keuangan KCIC berdampak pada posisi equity WIKA. Kereta cepat belum menghasilkan return positif, sementara WIKA tetap harus mencatatkan bagian kerugiannya.
"Jadi, saat ini konsolidasi keuangan WIKA melakukan konsolidasi berdampak ke equity negatif, karena saat ini kereta cepat itu menghasilkan return yang negatif karena WIKA menjadi bagian dari pemegang saham," ujar Mulyadi dalam paparan publik (pubex) virtual di Jakarta.
Dia menegaskan pengalihan pengelolaan ke pemerintah akan langsung maupun tidak langsung memperbaiki kinerja keuangan WIKA. "Terkait bagaimana jika kereta cepat nanti diambil alih oleh pemerintah. Ini memberikan dampak positif bagi WIKA," kata dia.
Mulyadi berharap proses pengambilalihan rampung pada tahun ini. Harapan itu muncul seiring pembahasan skema transfer saham yang tengah berjalan di tingkat kementerian.
Siapa yang Lepas dan Siapa yang Mengelola
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengambil alih kepemilikan 60 persen saham KCIC. Porsi itu selama ini dikuasai konsorsium BUMN lewat PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
Sementara 40 persen saham sisanya tetap dipegang konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Komposisi kepemilikan itu tidak berubah dalam skema baru.
Yang berubah adalah siapa yang mengelola. Whoosh nantinya berada di bawah unit Special Mission Vehicle (SMV) Kemenkeu, sehingga tidak menjadi beban langsung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Struktur PSBI sendiri terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya WIKA (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII). Keempatnya akan lepas dari tanggung jawab kepemilikan 60 persen saham tersebut.
Arti Penting bagi Neraca WIKA ke Depan
Bagi WIKA, keluarnya KCIC dari konsolidasi berarti hilangnya satu sumber tekanan rutin terhadap laba. Perseroan bisa lebih fokus membenahi lini usaha konstruksi dan infrastruktur yang menjadi bisnis intinya.
Skema SMV juga memberi kelegaan bagi perusahaan-perusahaan BUMN lain yang selama ini menanggung beban serupa. Jasa Marga dan PTPN VIII berada dalam posisi yang sama sebagai anggota konsorsium.
Namun, dampak positif itu baru terealisasi jika proses pengambilalihan benar-benar tuntas sesuai jadwal. Selama transfer saham belum rampung, beban konsolidasi KCIC masih melekat di laporan keuangan WIKA.
Pengalihan ke SMV Kemenkeu menandai pergeseran cara negara mengelola proyek strategis nasional. Alih-alih membebani neraca BUMN konstruksi, risiko proyek kereta cepat dipindahkan ke instrumen fiskal khusus yang dirancang menampung pembiayaan infrastruktur jangka panjang.