JAMBI — Indeks Kepercayaan Industri (IKI) naik ke level 53,75 pada Oktober 2026 dari 51,9 pada bulan sebelumnya, menandakan sektor manufaktur kembali ke fase ekspansi. Kenaikan indeks disampaikan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam Rapat Pimpinan Nasional Kadin 2026 di Jakarta. Level di atas 50 menjadi ambang ekspansi, sementara di bawahnya menandakan kontraksi.
Muhammad Sarmuji memaparkan capaian IKI Oktober 2026 di hadapan peserta Rapimnas Kadin, Jumat (30/10). Angka 53,75 itu lebih tinggi 1,85 poin dibandingkan posisi September yang tercatat 51,9.
"Kepercayaan Industri bulan Oktober mencapai level 53,75. Kembali berada pada level ekspansi setelah bulan sebelumnya berada pada level 51,9," ujar Sarmuji dalam paparannya.
Selain IKI, Sarmuji menyampaikan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 berada di level 52,1. Angka itu juga menempatkan industri manufaktur dalam fase ekspansi.
Kedua indikator tersebut sejalan dengan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang masih melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen.
Perbandingan serupa terlihat pada 2025. Industri pengolahan tumbuh 5,3 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11 persen.
Menurut Sarmuji, kondisi itu merupakan yang pertama dalam 12 tahun terakhir. Sebelumnya, pertumbuhan sektor industri cenderung sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
"Biasanya sektor industri itu sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi mulai 2025 akhir, sektor industri tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.
Level IKI di atas 50 menunjukkan pelaku industri menilai kondisi usaha lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Bagi investor, kombinasi IKI 53,75 dan PMI 52,1 menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap produk manufaktur belum melemah.
Pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang konsisten di atas pertumbuhan ekonomi nasional selama dua periode berturut-turut memperkuat posisi sektor ini sebagai salah satu penopang utama produk domestik bruto.
Namun, Sarmuji tidak merinci sektor mana yang menjadi kontributor terbesar kenaikan IKI Oktober. Data rincian per subsektor dan faktor pendorongnya belum disampaikan dalam paparan tersebut.