Premi Energi Offshore Tugu Insurance Melonjak 75 Persen

Penulis: Amrizal Halim  •  Sabtu, 31 Oktober 2026 | 10:06:01 WIB
Premi bruto lini asuransi energi lepas pantai Tugu Insurance tumbuh 75 persen secara tahunan hingga Juni 2026.

JAMBI — PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) mencatat kenaikan premi bruto lini asuransi energi lepas pantai sebesar 75 persen secara tahunan hingga Juni 2026. Pertumbuhan itu jauh melampaui premi asuransi energi offshore nasional yang hanya tumbuh 2,9 persen ke Rp932 miliar pada periode sama. Lompatan premi ini berjalan seiring laba bersih perseroan yang naik 76,87 persen menjadi Rp480,29 miliar.

Paragraf pembuka: Anak usaha PT Pertamina (Persero) itu menilai tingginya aktivitas hulu migas menjadi mesin utama pertumbuhan bisnisnya. Corporate Secretary Tugu Insurance, Dudi Subekti, menyebut sektor tersebut punya karakter risiko yang khas sehingga permintaan proteksi ikut menguat.

Kinerja Keuangan Semester I 2026

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp480,29 miliar pada semester I 2026. Angka itu naik 76,87 persen dibandingkan Rp271,55 miliar pada semester I 2025.

Kenaikan laba ditopang pertumbuhan pendapatan dan hasil jasa asuransi. Berdasarkan penerapan PSAK 117, pendapatan jasa asuransi Tugu Insurance mencapai Rp4,45 triliun, tumbuh 16,31 persen dari Rp3,83 triliun.

Hasil jasa asuransi melesat lebih tajam, yakni 85,56 persen menjadi Rp602,95 miliar dari sebelumnya Rp324,94 miliar. Lonjakan itu mencerminkan peningkatan hasil usaha jasa asuransi perusahaan dibandingkan tahun lalu.

Mengapa Premi Energi Offshore Tumbuh Pesat

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan premi asuransi energi offshore nasional mencapai Rp932 miliar pada semester I 2026. Pasar tumbuh 2,9 persen, sementara Tugu Insurance bergerak jauh lebih cepat di lini yang sama.

Dudi menjelaskan, aktivitas hulu migas melibatkan investasi besar dengan operasional kompleks. Risiko yang dihadapi mencakup keselamatan pekerja, kerusakan aset, hingga dampak terhadap lingkungan.

"Sektor hulu migas memiliki karakteristik investasi bernilai besar dengan proses operasional yang kompleks serta risiko keselamatan dan lingkungan yang tinggi. Oleh karena itu, perlindungan asuransi menjadi bagian penting dalam mitigasi risiko industri tersebut, mulai dari potensi kecelakaan kerja, kerusakan peralatan, hingga risiko dampak lingkungan," ujar Dudi dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/10/2026).

Selain energi, portofolio Tugu Insurance mencakup marine hull dan penerbangan. Perusahaan menilai aktivitas industri energi masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan bisnis asuransi ke depan.

Modal Rekam Jejak di Sektor Energi

Dudi menegaskan posisi perusahaan di lini asuransi energi bukan hal baru. Pengalaman panjang menjadi bekal untuk bersaing di segmen yang menuntut pemahaman risiko tinggi.

"Kami memiliki rekam jejak yang kuat di lini bisnis ini, serta fokus pada pengelolaan risiko komersial, kebakaran, dan industri energi. Hal tersebut menjadi keunggulan kami dalam mendukung kebutuhan proteksi sektor energi nasional," ujar Dudi.

Ke depan, Tugu Insurance berupaya menjaga pengelolaan risiko dan kesinambungan bisnis di tengah perkembangan kebutuhan proteksi sektor energi. Perusahaan juga menargetkan pertumbuhan usaha yang tetap memperhatikan tanggung jawab kepada pemangku kepentingan.

"Kami berkomitmen untuk menjaga kesinambungan bisnis, memenuhi tanggung jawab kepada para pemangku kepentingan, serta mendorong terciptanya nilai jangka panjang melalui pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," kata Dudi.

Penutup: Pertumbuhan premi 75 persen di lini energi offshore menempatkan Tugu Insurance jauh di atas rata-rata industri yang hanya 2,9 persen. Dengan laba bersih yang nyaris dua kali lipat, perseroan membuktikan segmen energi masih menjadi mesin pertumbuhan yang paling menjanjikan di portofolionya.

Reporter: Amrizal Halim
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top