JAMBI — PT Pertamina Patra Niaga menambah 72 mobil tangki berkapasitas total 1.704 kiloliter untuk mempercepat distribusi BBM di Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Lampung. Langkah ini diambil menyusul gangguan distribusi yang memicu antrean kendaraan di sejumlah SPBU. Penambahan armada menyasar tiga wilayah dengan tantangan distribusi paling berat.
Jakarta — Penambahan armada dirinci ke tiga wilayah: 41 mobil tangki berkapasitas 1.184 kiloliter dikirim ke Jawa Timur, 11 unit berkapasitas 200 kiloliter ke Sulawesi Utara, dan 20 unit berkapasitas 320 kiloliter ke Lampung. Di Jawa Timur dan Sulawesi Utara, penguatan pasokan dijalankan lewat skema spot charter.
Perusahaan pelat merah itu juga mengoptimalkan operasional terminal serta menyesuaikan jadwal pengiriman BBM agar pasokan lebih cepat sampai ke SPBU. Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyebut penguatan dilakukan lewat tiga jalur sekaligus: pasokan, armada, dan pengaturan distribusi sesuai kebutuhan lapangan.
"Pertamina Patra Niaga terus mengintensifkan penyaluran BBM melalui penguatan pasokan, optimalisasi armada, dan pengaturan distribusi sesuai kebutuhan di lapangan. Koordinasi antara terminal BBM, mobil tangki, dan SPBU juga terus diperkuat agar pasokan dapat segera diterima dan pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga," kata Kitty di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Di Jawa Timur, sejumlah terminal BBM diperpanjang jam operasionalnya menjadi 24 jam. Pertamina juga mengoptimalkan pelayanan pada 17 SPBU yang beroperasi sepanjang hari untuk mempercepat penyaluran ke masyarakat.
Sulawesi Utara mendapat perlakuan serupa lewat perpanjangan operasional Integrated Terminal Bitung menjadi 24 jam. Sementara di Lampung, tambahan pasokan sebesar 120 kiloliter dialirkan melalui pengalihan pengiriman dari Integrated Terminal Palembang.
Pemantauan operasional pada Selasa (27/10/2026) menunjukkan antrean BBM di Bali, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara sudah kembali terkendali. Kondisi berbeda masih terlihat di Lampung dan Gorontalo, meski antrean di kedua wilayah itu terus menurun seiring percepatan distribusi dan tambahan pasokan.
Kitty menjelaskan, setiap daerah punya persoalan distribusi yang tidak sama. Peningkatan permintaan, jarak tempuh dan medan sulit, hingga kendala akses kapal ke terminal tertentu menjadi beberapa faktor yang dihadapi.
"Setiap wilayah memiliki tantangan distribusi yang berbeda, mulai dari peningkatan permintaan, jarak tempuh dan medan yang sulit, hingga kendala akses kapal ke terminal tertentu. Karena itu, langkah penanganan disesuaikan dengan kondisi lapangan, antara lain melalui pengalihan pasokan, percepatan pengiriman, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat terkait," ujar Kitty.
Secara nasional, Pertamina memprioritaskan pengiriman BBM ke SPBU yang membutuhkan percepatan pasokan. Terminal penyangga dioptimalkan, jadwal mobil tangki diatur sesuai kebutuhan wilayah, dan proses distribusi dipantau hingga BBM diterima serta dibongkar di SPBU.
Penambahan 72 mobil tangki menjadi sinyal bahwa persoalan utama bukan kekurangan stok, melainkan kecepatan pengiriman ke titik layanan. Bagi pengguna kendaraan di tiga provinsi tersebut, perbaikan armada dan jam operasional terminal menjadi penentu seberapa cepat antrean di SPBU benar-benar surut.