JAMBI — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,64% ke level 5.142,82 pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (29/10/2026). Pelemahan terjadi setelah indeks sempat menyentuh level tertinggi intraday 5.320,89 pada pagi hari, sebelum berbalik arah. Dari 785 saham yang diperdagangkan, sebanyak 593 saham tercatat melemah dan hanya 92 saham yang menguat.
Data RTI Business menunjukkan IHSG berada di level 5.100-an pada paruh pertama perdagangan. Berbaliknya indeks dari level tertinggi intraday menandakan tekanan jual yang datang setelah penguatan pagi.
Hingga jeda siang, volume perdagangan tercatat 14,35 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 5,85 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 803.471 kali, sementara kapitalisasi pasar tercatat Rp 9.048,34 triliun.
Indeks LQ45 melemah 2,93% ke level 523.637 pada sesi yang sama. Tekanan terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks tersebut.
Dari sisi jumlah saham, pasar bergerak timpang. Sebanyak 593 saham melemah berbanding 92 saham yang menguat, sedangkan 100 saham stagnan. Rasio saham turun terhadap saham naik mencapai lebih dari 6 banding 1, mencerminkan tekanan jual yang merata hampir di seluruh sektor.
Nilai transaksi Rp 5,85 triliun pada sesi I tergolong moderat. Artinya, tekanan jual tidak sepenuhnya diikuti lonjakan volume yang agresif, meski dampaknya terhadap indeks cukup dalam.
Pelemahan ISAT hingga menyentuh ARB menjadi sinyal tersendiri bagi pemegang saham telekomunikasi. Saham BRPT dan WIFI yang juga turun di atas 6% menunjukkan tekanan menyebar ke sektor energi dan infrastruktur digital.
Bagi investor, breadth pasar yang sangat negatif menjadi indikator penting untuk memantau apakah tekanan berlanjut ke sesi II. Pembalikan dari level tertinggi intraday 5.320,89 ke 5.142,82 dalam satu sesi menunjukkan volatilitas yang tinggi, sehingga kehati-hatian dalam mengambil posisi tetap diperlukan.