JAMBI — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian menjadi-jadi. Pada perdagangan awal pekan, mata uang Garuda sempat menyentuh level terendahnya, mengingatkan publik pada situasi krisis moneter 1998. Menyikapi hal itu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad secara terbuka meminta warga yang memiliki valuta asing untuk melepas kepemilikan dolar mereka.
"Karena kalau kemudian sudah minggu depan nilai rupiah menguat, kan kasihan kalau simpan-simpan dolar. Itu imbauan saya sih demikian," kata Dasco di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).
Pernyataan ini disampaikan Dasco di sela-sela pertemuan dengan jajaran direksi bank Himbara, BP BUMN, BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, dan Indonesia Investment Authority (INA) pada Selasa (9/6). Pertemuan tersebut membahas volatilitas ekstrem yang terjadi di pasar saham dalam beberapa bulan terakhir.
Selain imbauan soal dolar, Dasco mendorong bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himbara untuk melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback). Menurutnya, langkah ini krusial karena harga saham saat ini sudah terpukul dan tidak mencerminkan fundamental perusahaan yang sebenarnya.
“Kemudian lembaga-lembaga yang melakukan investasi maupun pasar tentunya melihat atau melakukan transaksi pembelian pada saat keadaan pasar seperti kemarin (anjlok),” ujar Dasco.
Jika menilik pergerakan saham bank Himbara, tekanan jual sangat terasa. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sudah tertekan 22,68% secara year to date. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga terperosok 17,25% ytd, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) merosot 20,37% ytd. Dari empat bank, hanya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang tercatat naik tipis 1,28% ytd, meski dalam tiga bulan terakhir turun 13,77%.
Di tengah tekanan pasar, Ketua Himbara yang juga Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa kondisi fundamental perbankan pelat merah justru berada dalam posisi terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Ia merinci rata-rata pertumbuhan kredit Himbara mencapai sekitar 20%, sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh di kisaran 20% hingga 30%.
Dari sisi likuiditas, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) bank BUMN berada di rentang 88% hingga 90%, yang dinilai sehat. Kualitas aset juga terjaga dengan baik, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang rata-rata masih di bawah level 2%.
“Saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di BEI,” ucap Putrama.
Pemerintah dan DPR kini berharap aksi buyback oleh Himbara serta imbauan pelepasan dolar bisa menjadi bantalan bagi IHSG dan rupiah yang tengah merana. Langkah konkret di pasar dijadwalkan mulai terlihat pada pekan depan.