Proposal penghapusan x32 ABI diajukan oleh Sebastian Andrezj Siewior dari Lintronix ke milis pengembang kernel Linux. Dalam dokumennya, ia menyebut mode hybrid ini sudah tidak relevan lagi secara teknis dan gagal menarik minat pengembang perangkat lunak selama lebih dari satu dekade. Jika tidak ada keberatan dari komunitas, kode x32 ABI akan dihapus sepenuhnya dari kernel pada 2027.
x32 ABI lahir sebagai solusi untuk menekan konsumsi memori program 64-bit. Idenya sederhana: biarkan prosesor 64-bit berjalan dengan register dan jalur data penuh, tapi batasi ukuran pointer (penunjuk alamat memori) menjadi 32-bit atau 4 byte — setengah dari ukuran pointer 64-bit yang mencapai 8 byte.
Pointer adalah angka biner yang melacak lokasi data di memori sistem. Dengan ukuran pointer yang lebih kecil, lebih banyak data bisa muat di cache prosesor. Hasilnya, performa teoritis meningkat karena CPU lebih jarang harus mengambil data dari memori utama yang lebih lambat.
Keuntungan ini membuat sistem operasi tetap bisa mengakses lebih dari 4GB RAM — batasan klasik arsitektur 32-bit murni — tanpa harus membayar mahal dalam ukuran pointer 64-bit.
Sayangnya, x32 ABI membawa kompleksitas tambahan bagi pengembang. Kompiler harus mendukungnya secara khusus, dan setiap proses yang berjalan di mode x32 tetap dibatasi maksimal 4GB memori — karena pointer 32-bit hanya mampu menjangkau alamat sebesar itu.
Ini menjadi kelemahan fundamental. Program modern, terutama di server dan aplikasi data besar, sering membutuhkan lebih dari 4GB per proses. Alih-alih menjadi solusi universal, x32 ABI hanya efisien untuk beban kerja spesifik yang ringan memori tapi sensitif terhadap latensi cache.
Masalah terbesar x32 ABI bukan teknis, melainkan ekosistem. Mode ini hanya tersedia di Linux — tidak pernah diadopsi oleh Windows atau macOS. Tanpa dukungan lintas platform, pengembang perangkat lunak tidak punya insentif untuk menulis kode yang memanfaatkannya.
Sebastian mencatat dalam proposalnya bahwa peningkatan performa yang dijanjikan x32 ABI tidak cukup signifikan untuk membuat pengembang mau pindah dan menggunakannya secara eksklusif. "Kinerja yang lebih baik yang diwujudkan x32 ABI tidak cukup besar untuk beban kerja tertentu agar beralih ke mode ini dan menggunakannya secara eksklusif," tulisnya.
Akibatnya, x32 ABI menjadi fitur yang nyaris tidak digunakan oleh perangkat lunak mainstream. Bagi pengguna Linux di Indonesia — terutama yang masih mengandalkan distribusi lama atau perangkat keras lawas — keputusan ini tidak akan berdampak langsung. Kernel modern tetap bisa menjalankan aplikasi 32-bit murni dan 64-bit murni tanpa masalah.
Penghapusan x32 ABI adalah bagian dari upaya berkelanjutan para pengelola kernel untuk membersihkan kode usang yang menambah beban pemeliharaan. Arsitektur dan antarmuka yang ditinggalkan vendor atau tidak lagi relevan secara bertahap dipangkas setiap siklus rilis.
Bagi komunitas Linux, ini adalah keputusan pragmatis: mempertahankan kode yang nyaris tak terpakai hanya membuka celah bug dan menghabiskan waktu pengembang yang bisa dialokasikan ke fitur yang lebih berdampak. x32 ABI, setelah 15 tahun, akhirnya menyerah pada kenyataan pasar.