MUARO JAMBI — Denyut nadi kebersamaan warga di Kabupaten Muaro Jambi terlihat nyata setiap kali ada perhelatan pernikahan. Alih-alih mengandalkan jasa katering profesional, warga setempat memilih turun tangan langsung melalui tradisi "masak gubug" atau rewang. Aktivitas ini dimulai sejak tenda didirikan dan kayu bakar dikumpulkan di halaman rumah penyelenggara pesta.
Persiapan biasanya dilakukan beberapa hari sebelum hari puncak pernikahan. Warga secara kolektif membangun dapur umum darurat yang terbuat dari bambu dengan atap rumbia. Di lokasi inilah, nilai-nilai kerukunan bertetangga diwujudkan melalui tindakan nyata tanpa perlu adanya instruksi formal dari perangkat desa.
Setiap warga datang ke lokasi hajatan atas dasar kesadaran dan ikatan batin untuk meringankan beban sesama. Para pria berbagi tugas membelah kayu bakar, memasang kuali raksasa di atas tungku tanah liat, hingga memastikan ketersediaan air bersih. Kerja fisik yang berat ini dilakukan dengan penuh semangat sebagai bentuk dukungan moral bagi tuan rumah.
Di sisi lain, kaum ibu mengambil peran sentral dalam mengolah bahan mentah. Mereka mengupas ribuan butir bawang dan meracik bumbu dasar yang menjadi ciri khas masakan Jambi. Suasana dapur umum selalu hidup dengan komunikasi yang mengalir, diiringi canda gurau yang efektif memecah kelelahan selama bekerja.
Dinamika sosial di dapur rewang juga berfungsi sebagai wadah pertukaran informasi dan wejangan dari tetua kepada generasi muda. Tak jarang, momen masak bersama ini menjadi sarana rekonsiliasi diam-diam jika sempat terjadi perselisihan antarwarga di masa lalu. Di hadapan tungku api, semua orang memiliki derajat yang sama sebagai bagian dari keluarga besar desa.
Setiap individu dalam ekosistem rewang menjaga harmoni agar tidak ada bahan makanan yang terbuang. Pemuda desa mengambil peran teknis yang membutuhkan kekuatan ekstra, sementara kaum lansia tetap dihormati sebagai pengawas kualitas rasa. Saling dukung ini menciptakan rasa aman bagi keluarga yang sedang melangsungkan hajatan besar.
Masyarakat Muaro Jambi percaya bahwa masakan yang diolah dengan semangat keikhlasan kolektif akan menghasilkan rasa yang lebih nikmat. Ada kepercayaan bahwa doa dan harapan baik untuk mempelai ikut teraduk dalam setiap sudip kayu besar di kuali gulai. Hal inilah yang membuat cita rasa hidangan pernikahan di desa sulit ditandingi oleh layanan katering modern.
Fenomena masak gubug ini menjadi pengingat penting mengenai jati diri asli bangsa di tengah kemajuan teknologi. Kebahagiaan sebuah pesta di desa tidak diukur dari kemewahan dekorasi, melainkan dari banyaknya tetangga yang sukarela membantu di dapur. Praktis, tradisi ini merupakan investasi sosial abadi yang memastikan keberlangsungan peradaban masyarakat Jambi yang inklusif.