Tim bulu tangkis putra China resmi merengkuh gelar juara Thomas Cup 2026 setelah menumbangkan Prancis dengan skor 3-1 pada laga final di Forum Horsens, Denmark, Minggu (3/5/2026). Meski gagal meraih trofi, keberhasilan Prancis menembus partai puncak menjadi sejarah baru bagi kekuatan bulu tangkis Eropa di kancah dunia.
Dominasi China di ajang supremasi bulu tangkis beregu putra dunia kembali terbukti. Bertanding di Forum Horsens, Denmark, skuat Negeri Tirai Bambu meredam ambisi besar Prancis yang tampil sebagai tim kejutan sepanjang turnamen. Kemenangan China dipastikan pada partai keempat melalui sektor ganda putra.
Laga final ini berakhir dengan skor 3-1 untuk keunggulan China. Poin penentu kemenangan dipersembahkan oleh pasangan He Ji Ting/Ren Xiang Yu. Turun di partai keempat, mereka berhasil mengatasi perlawanan ganda putra Prancis sekaligus memastikan trofi Thomas Cup kembali pulang ke China.
Pertarungan sejatinya berlangsung sengit. Prancis bukan tanpa perlawanan, mengingat dua kekalahan yang mereka derita harus diselesaikan melalui drama tiga gim. Hal ini menunjukkan bahwa level permainan skuat Negeri Mode tersebut sudah mampu mengimbangi kemapanan pemain-pemain elite China di partai puncak.
Meski berakhir anti-klimaks di laga final, perjalanan Prancis menuju podium kedua tergolong sangat fenomenal. Sepanjang pekan kompetisi di Denmark, mereka menjelma menjadi kekuatan menakutkan dengan menumbangkan negara-negara yang memiliki tradisi juara Thomas Cup.
Berikut adalah catatan kemenangan impresif Prancis sebelum menapakkan kaki di final:
Pencapaian ini merupakan sejarah pertama bagi Prancis berhasil lolos ke final Thomas Cup. Konsistensi mereka sejak fase grup hingga semifinal membuktikan bahwa peta kekuatan bulu tangkis dunia kini tidak lagi hanya berpusat di Asia.
Menanggapi kegagalan di partai puncak, tunggal putra andalan Prancis, Toma Junior Popov, memilih untuk tetap optimistis. Baginya, pencapaian tim pekan ini jauh melampaui ekspektasi awal dan menjadi modal berharga untuk masa depan bulu tangkis Prancis.
"Medalinya memang perak, tetapi bagi kami rasanya seperti emas. Rasanya luar biasa bahwa kami bisa mencapainya pekan ini. Kami kembali memberikan perlawanan yang hebat kali ini," ujar Popov seperti dikutip dari Badminton Europe.
Popov juga menyoroti betapa tipisnya jarak kualitas antara timnya dengan China di lapangan. "Dua kekalahan kami terjadi dalam pertandingan tiga gim, dan tidak diragukan bahwa kami punya peluang menang," pungkasnya. Prancis kini pulang dengan kepala tegak sebagai kekuatan baru yang patut diwaspadai di masa depan.