Jambi Putar Rp7,2 Miliar Per Hari Lewat Makan Bergizi Gratis

Penulis: Redaksi  •  Senin, 04 Mei 2026 | 15:11:01 WIB

JAMBI — Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak ekonomi signifikan dengan nilai perputaran uang mencapai Rp7,2 miliar setiap hari di wilayahnya. Angka tersebut mencakup belanja bahan pangan dari petani lokal, biaya operasional, hingga honorarium bagi ribuan tenaga kerja lapangan.

Data tersebut dipaparkan dalam Rapat Konsolidasi Pelaksanaan MBG bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di Jambi, Sabtu (2/5/2026). Hingga saat ini, sebanyak 205 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah disiapkan untuk mendukung program nasional tersebut di tingkat daerah.

Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Kepala BGN Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya, Sekda Provinsi Jambi Sudirman, serta jajaran Satgas MBG dari seluruh kabupaten dan kota di Jambi. Koordinasi ini bertujuan mematangkan rantai pasok agar kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Kesiapan Ratusan Satuan Pelayanan Gizi di Seluruh Jambi

Al Haris menjelaskan bahwa infrastruktur pendukung MBG di Provinsi Jambi terus menunjukkan perkembangan pesat. Dari total 205 SPPG yang ada, sebanyak 173 unit sudah beroperasi penuh, sementara 32 unit lainnya dalam status siap operasional. Pemerintah juga tengah melakukan survei lapangan untuk 302 unit tambahan.

"Program ini menyasar anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui yang kurang gizi. Namun manfaatnya sangat luas, termasuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," kata Al Haris di hadapan jajaran BGN pusat.

Menurut Al Haris, kehadiran SPPG di tiap wilayah menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru. Keberadaan satuan pelayanan ini tidak hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi usaha mikro dan kecil di sekitar lokasi pelayanan.

Bedah Alokasi Rp7,2 Miliar: Dari Bahan Pangan Hingga Honor Relawan

Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya merinci distribusi anggaran harian yang berputar di Jambi. Dengan total 446 ribu penerima manfaat, program ini melibatkan 545 pemasok dalam rantai pasoknya. Aliran dana Rp7,2 miliar per hari tersebut terbagi ke dalam beberapa sektor utama yang bersentuhan langsung dengan warga.

Sektor belanja bahan pangan lokal menjadi porsi terbesar dengan nilai Rp4,1 miliar setiap hari. Dana ini digunakan untuk membeli beras, daging ayam, telur, buah-buahan, hingga sayuran dari produsen lokal. Hal ini memastikan ketersediaan pasar yang stabil bagi para petani di Jambi.

"Ada pula alokasi Rp963,5 juta untuk honor 9.635 tenaga kerja dan relawan, serta Rp881,5 juta untuk biaya operasional seperti air minum, gas, BBM, dan alat pelindung diri," ujar Sony Sanjaya menjelaskan rincian teknis anggaran.

Dampak Rantai Pasok Terhadap Petani dan Peternak Lokal

Program MBG secara langsung mengubah pola distribusi hasil pertanian di Jambi. Selama ini, banyak petani dan peternak yang harus menjual hasil produksinya ke luar daerah karena keterbatasan serapan pasar lokal. Kini, kebutuhan besar dari SPPG membuat produk mereka terserap sepenuhnya di dalam provinsi.

"Dulu banyak yang menjual keluar daerah, sekarang cukup di Jambi saja sudah terserap. Ini tentu sangat membantu perekonomian daerah," tambah Al Haris.

Meski serapan pasar meningkat, Al Haris memberikan catatan khusus mengenai kemandirian pangan. Saat ini, Jambi baru mampu memenuhi sekitar 71 persen kebutuhan beras secara mandiri. Sebaliknya, untuk komoditas telur ayam, produksi peternak lokal sudah mampu mencukupi seluruh kebutuhan program di wilayah tersebut.

Pemerintah Provinsi Jambi kini mendorong peningkatan produksi pertanian, terutama padi, untuk menutup celah kekurangan 29 persen kebutuhan beras. Langkah ini dilakukan agar seluruh perputaran uang dalam program MBG tetap berada di dalam ekosistem ekonomi Jambi dan tidak lari ke luar daerah.

Reporter: Redaksi
Back to top