JAMBI — Langkah ini menjadi salah satu pembatasan AI paling agresif yang diterapkan distrik sekolah besar di Amerika Serikat. Puluhan program berbasis AI di sekolah-sekolah New York City akan dimatikan atau ditinjau ulang.
38 Program AI Bakal Dinonaktifkan
Pemerintah kota akan menghentikan atau menonaktifkan komponen AI pada lebih dari 38 program yang sebelumnya diizinkan beroperasi, kecuali produk tersebut memenuhi standar keselamatan dan pengawasan baru. Salah satu korban kebijakan ini adalah Amira, tutor membaca berbasis AI.
Produk yang tidak memungkinkan fitur AI-nya dimatikan juga tidak akan digunakan. Kebijakan ini sekaligus membatasi penggunaan perangkat individual di ruang kelas, dengan larangan total untuk siswa prasekolah hingga kelas dua.
Untuk siswa kelas tiga hingga lima, sekolah direkomendasikan membatasi waktu penggunaan perangkat maksimal 30 menit. Sementara siswa sekolah menengah pertama mendapat rekomendasi maksimal 45 menit.
Alasan di Balik Moratorium AI
"Industri teknologi ingin kita percaya bahwa AI dalam pendidikan usia dini bukan hanya tak terhindarkan, tetapi juga diperlukan," kata Mamdani dalam konferensi pers di Brooklyn, dikutip dari Politico. "Saya belum melihat studi yang menunjukkan bahwa AI bermanfaat bagi siswa sekolah dasar dan menengah, kecuali tentu saja penelitian yang disponsori perusahaan-perusahaan yang akan mendapatkan keuntungan."
Mamdani menegaskan orang tua di New York berhak mendapatkan kepastian bahwa anak-anak mereka memperoleh pendidikan berkualitas tanpa data pribadi mereka dimanfaatkan perusahaan teknologi. "Mereka berhak tahu bahwa data anak-anak mereka tidak akan ditambang Big Tech, dan perkembangan anak-anak mereka tidak akan dikorbankan demi keuntungan perusahaan," ujarnya.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya resistensi terhadap penggunaan teknologi di ruang kelas di AS. Sejumlah negara bagian seperti Virginia, Idaho, dan Oklahoma memang telah meminta lembaga pendidikan menyusun panduan penggunaan AI, namun pendekatan New York City jauh lebih ketat dengan menghentikan sementara pemakaian AI untuk siswa yang lebih muda.
Sekolah Menengah Atas Dapat Perlakuan Berbeda
Pendekatan berbeda diterapkan untuk siswa sekolah menengah atas. Mamdani menilai remaja tumbuh di dunia yang sudah dipenuhi AI, sehingga mereka perlu dipersiapkan menghadapi realitas tersebut.
New York City akan menjalankan lima proyek percontohan AI yang mencakup maksimal 50 ribu siswa SMA, atau sekitar 5 persen dari populasi siswa sekolah negeri. Seluruh siswa SMA juga akan mendapatkan kelas literasi AI dua kali dalam setahun.
Presiden American Federation of Teachers Randi Weingarten menilai kebijakan tersebut sejalan dengan usulan organisasinya. Menurutnya, siswa yang lebih tua perlu diajarkan menggunakan AI secara hati-hati, sementara anak yang lebih muda perlu lebih banyak belajar berpikir tanpa terlalu banyak layar dan tanpa menyerahkan proses kognitif kepada teknologi.
Pengecualian untuk Siswa Disabilitas
Larangan AI tidak berlaku untuk teknologi asistif bagi sebagian siswa penyandang disabilitas dan pelajar bahasa Inggris. Pengecualian juga diberikan untuk tugas pemrograman dan penggunaan buku elektronik.
Bagi pengembang edutech dan startup AI yang menargetkan pasar pendidikan Amerika Serikat, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa regulasi ketat sedang mengarah ke penggunaan teknologi di ruang kelas. Keputusan New York City bisa menjadi preseden bagi distrik sekolah lain untuk meninjau ulang implementasi AI pada jenjang pendidikan dasar.