JAMBI — Pujian terhadap kinerja sektor pangan pemerintahan Prabowo Subianto kembali mengemuka di ruang publik. Kali ini datang dari Titiek Soeharto, putri Presiden kedua RI Soeharto, yang secara eksplisit mengapresiasi capaian swasembada beras dan jagung yang dicanangkan pemerintah.
Menurut Titiek, keberhasilan tersebut merupakan fondasi penting bagi ketahanan nasional. Ia menilai Presiden Prabowo telah bekerja keras untuk mewujudkan kemandirian pangan, sebuah agenda yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi setiap rezim.
Dorongan untuk Komoditas Strategis Lainnya
Di tengah apresiasi tersebut, ia menyelipkan pesan agar pemerintah tidak berpuas diri. Titiek mendorong agar program swasembada diperluas ke komoditas lain yang dinilai belum optimal, seperti kedelai, gula, dan daging sapi.
"Saya bersyukur atas capaian swasembada beras dan jagung. Ini kerja keras yang patut dihargai. Namun, kita tidak boleh berhenti di sini. Masih banyak komoditas strategis lain yang harus kita kejar agar ketahanan pangan nasional benar-benar kokoh," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Menimbang Dampak bagi Petani dan Inflasi
Capaian swasembada ini memiliki implikasi luas, terutama bagi kesejahteraan petani dan stabilitas harga pangan nasional. Dengan tercukupinya pasokan domestik, tekanan inflasi akibat fluktuasi harga pangan global diharapkan dapat diredam.
Namun, tantangan ke depan tidak ringan. Pemerintah harus memastikan bahwa harga gabah di tingkat petani tetap menguntungkan agar produktivitas tidak menurun. Insentif dan penyerapan hasil panen oleh Bulog menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan program ini.
Peta Jalan Menuju Kemandirian Pangan Penuh
Dorongan Titiek Soeharto sejalan dengan target besar pemerintah yang mencanangkan swasembada pangan secara menyeluruh dalam beberapa tahun ke depan. Kementerian Pertanian sebelumnya telah memetakan sejumlah komoditas prioritas yang akan difokuskan pada musim tanam mendatang.
Langkah konkret yang tengah disiapkan meliputi perluasan areal tanam, rehabilitasi jaringan irigasi, serta penyaluran bantuan alat mesin pertanian (alsintan) secara masif. Sektor ini menjadi prioritas utama karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan daya saing bangsa di tengah krisis pangan global.
Keberhasilan pemerintahan saat ini dalam mengamankan produksi padi dan jagung menjadi modal berharga. Pertanyaannya kini, apakah eksekusi di lapangan mampu menjawab ekspektasi untuk komoditas-komoditas berikutnya.