Pencarian

Observatorium Vera C. Rubin Mulai Rekam 'Film Kosmik' 10 Tahun, 3.200 Megapiksel per Gambar

Senin, 06 Juli 2026 • 13:59:02 WIB
Observatorium Vera C. Rubin Mulai Rekam 'Film Kosmik' 10 Tahun, 3.200 Megapiksel per Gambar
Observatorium Vera C. Rubin mulai merekam alam semesta dengan kamera 3.200 megapiksel setiap 40 detik.

JAMBI — Observatorium Vera C. Rubin yang berada di puncak gunung Cerro Pachón, Chile, resmi memulai misi utamanya: Legacy Survey of Space and Time (LSST). Proyek ini sudah dirancang selama lebih dari dua dekade dan baru benar-benar berjalan pada akhir Juni 2025. Hasilnya akan berupa rekaman time-lapse ultralebar dan berdefinisi ultra-tinggi dari alam semesta.

Kamera 3.200 MP: Jepret Setiap 40 Detik

Kamera yang digunakan Rubin adalah yang terbesar yang pernah dibuat. Dengan 3.200 megapiksel, kamera ini mampu menangkap detail yang sebelumnya tidak terlihat oleh teleskop lain. Selama sepuluh tahun ke depan, Rubin akan memotret langit setiap 40 detik dan menghasilkan sekitar seribu gambar per malam.

Data yang dihasilkan sangat besar: sekitar sepuluh terabyte setiap malam. Seluruh titik langit akan dikunjungi ulang sekitar 800 kali selama masa survei. Ini memungkinkan para astronom merekam perubahan posisi asteroid, ledakan bintang, atau objek bergerak lainnya secara real-time.

Apa yang Dicari: Energi Gelap, Materi Gelap, dan Asteroid Baru

Fokus utama Rubin adalah memahami dua misteri terbesar kosmologi modern: dark energy (energi gelap) dan dark matter (materi gelap). Keduanya dipercaya membentuk sebagian besar alam semesta, namun belum pernah terdeteksi secara langsung.

"Kami tidak sekadar mengamati bintang; kami berusaha memahami hukum fundamental yang mengatur keberadaan kita," ujar Darío Gil, Under Secretary for Science di Departemen Energi AS, dalam pernyataan resmi. Brian Stone dari National Science Foundation menambahkan, "Hari ini, kita mulai merekam film kosmik terbesar yang pernah dibuat."

Dalam uji coba tahun lalu, Rubin sudah berhasil menangkap jutaan galaksi, bintang, dan ribuan asteroid yang sebelumnya tidak tercatat. Dengan data ini, para ilmuwan berharap bisa memetakan tata surya kita dengan lebih akurat.

Kecoa Cyborg Kini Bisa Berenang Berkat Diving Suit Mini

Dari Chile ke laboratorium Singapura: tim peneliti dari Nanyang Technological University dan Waseda University mengumumkan terobosan yang tidak biasa. Mereka menciptakan diving suit mini untuk kecoa cyborg, memungkinkan serangga ini bertahan berenang di bawah air hingga tiga jam.

Kecoa cyborg sendiri adalah kecoa hissing Madagaskar yang dipasangi pengontrol elektronik. Biasanya, lingkungan banjir menjadi penghalang bagi mereka. Namun, dengan setelan baru berupa tangki oksigen, cangkang fleksibel, dan empat selang silikon yang dipasang ke spirakel (lubang pernapasan), kecoa bisa menyelam tanpa cedera.

Peneliti mengklaim selang tersebut bisa dilepas tanpa rasa sakit setelah misi selesai. Hasil riset ini diterbitkan di jurnal Nature Communications pekan ini. Untuk apa semua ini? Tim peneliti menyebut kecoa cyborg punya potensi besar dalam operasi search and rescue. Mereka sudah pernah dikerahkan di Myanmar setelah gempa bumi besar musim semi lalu untuk menjangkau area yang tidak bisa dimasuki manusia atau robot besar.

NASA Tunjuk Tiga Perusahaan untuk Kirim Muatan ke Bulan pada 2028

NASA juga tidak tinggal diam. Pekan ini, badan antariksa AS mengumumkan kontrak senilai total hampir 600 juta dolar AS (sekitar Rp 9,9 triliun) kepada tiga perusahaan: Astrobotic, Firefly Aerospace, dan Intuitive Machines. Mereka akan mengirimkan muatan sains ke permukaan Bulan pada akhir 2028 sebagai bagian dari persiapan pembangunan Moon Base senilai 20 miliar dolar AS.

Astrobotic akan melakukan dua perjalanan, sementara Firefly dan Intuitive Machines masing-masing satu kali. Setiap misi akan membawa tiga instrumen yang sama: kamera stereo SCALPSS untuk data pendaratan, reflektor laser LRA untuk navigasi presisi, dan spektrometer LETS untuk mengukur radiasi luar angkasa.

"Dengan menerbangkan instrumen sains yang sama di beberapa lander, kami akan lebih memahami potensi bahaya dan kondisi permukaan Bulan," demikian pernyataan NASA. Misi sebelumnya sudah dijadwalkan sebelum akhir 2026, dan pengiriman 2028 ini merupakan gelombang lanjutan.

Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks