JAMBI — Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tekanan jual mendominasi sejak menit pertama perdagangan. Hingga pukul 09.15 WIB, sebanyak 380 saham tercatat melemah, sementara hanya 198 saham yang berada di zona hijau. Sisanya, 381 saham, stagnan. Volume transaksi awal mencapai 3,09 miliar saham dengan nilai Rp2,1 triliun.
Mayoritas Sektor Melemah, Energi dan Properti Jadi Penahan
Dari 11 indeks sektoral, hanya empat sektor yang mampu bertahan di zona hijau: energi, properti, industri, dan kesehatan. Sektor energi menjadi penahan utama pelemahan IHSG lebih dalam, didorong oleh pergerakan harga komoditas global yang masih volatile.
Di sisi lain, tujuh sektor lainnya kompak tertekan. Sektor keuangan dan teknologi menjadi pemberat terbesar indeks. Konsumer siklikal, infrastruktur, bahan baku, konsumer non-siklikal, serta transportasi juga tak luput dari aksi jual investor.
Indeks Blue Chip Kompak Tertekan
Pelemahan IHSG juga tercermin pada indeks saham unggulan. Indeks LQ45 turun 0,28 persen ke 617, disusul IDX30 yang melemah 0,21 persen ke 348. Indeks JII dan MNC36 masing-masing turun 0,26 persen ke 376 dan 0,17 persen ke 269.
Tekanan di saham-saham berkapitalisasi besar ini mengindikasikan investor institusi masih dalam mode wait and see di awal pekan, menanti katalis baru dari data ekonomi domestik maupun sentimen global.
Saham HERO dan ARTA Pimpin Top Gainers
Di tengah dominasi merah, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan signifikan. Tiga saham dengan kenaikan tertinggi (top gainers) adalah PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO), PT Arthavest Tbk (ARTA), dan PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE). Ketiganya menjadi pengecualian di tengah tekanan jual yang meluas.
Namun, volume transaksi yang masih rendah di sesi awal menunjukkan bahwa kenaikan harga saham-saham tersebut belum diikuti oleh partisipasi pasar yang kuat.
Investasi mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.