Populasi Badak Jawa di Ujung Kulon Dipastikan Aman dari Erupsi Anak Krakatau

Penulis: Tengku Syafri  •  Rabu, 09 September 2026 | 19:49:01 WIB
Populasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon dipastikan aman dari dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

JAMBI — Kabar baik datang dari kawasan konservasi di ujung barat Pulau Jawa. Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengonfirmasi badak jawa yang menghuni Semenanjung Ujung Kulon tetap aman setelah erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi beberapa waktu terakhir. Pengumuman ini disampaikan melalui akun Instagram resmi @btn_ujung_kulon pada Rabu (9/9/2026).

Jarak 60 Km dan Hutan Rapat Jadi Perisai Alami

Meskipun secara geografis habitat badak terletak relatif dekat dengan gunung api tersebut, bentang alam disebut menjadi faktor utama yang melindungi satwa langka ini. Jarak sekitar 60 kilometer melalui laut dan 10-20 kilometer melalui daratan, ditambah bentang hutan yang rapat, secara alami membantu meredam suara gemuruh erupsi.

"Kondisi geografis habitat badak yang berjarak sekitar 60 kilometer melalui laut dan 10-20 kilometer melalui daratan, serta bentang hutan yang rapat, secara alami membantu meredam suara dan mengurangi intensitas gemuruh yang mencapai habitat badak," tulis Balai TNUK dalam keterangannya.

Pola Makan Badak Jawa Turunkan Risiko Paparan Abu Vulkanik

Dari sisi risiko abu vulkanik, pengelola TNUK menyebut pola makan badak jawa menjadi faktor penentu. Berbeda dengan satwa grazer yang merumput di area terbuka, badak jawa adalah satwa browser yang lebih banyak mengonsumsi daun-daunan, pucuk tanaman, ranting muda, dan vegetasi semak di bawah tegakan pohon.

Kebiasaan makan ini dinilai membantu mengurangi potensi paparan langsung terhadap abu vulkanik yang mungkin mengendap di permukaan vegetasi. Hingga kini, tidak ditemukan debu vulkanik Anak Krakatau di kawasan inti habitat satwa tersebut.

Perilaku Badak Normal, Ancaman Tsunami Dipastikan Tidak Ada

Aktivitas erupsi yang disertai suara dentuman juga belum menunjukkan dampak terhadap perilaku badak. Tim pemantau tidak menemukan indikasi perubahan perilaku yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik tersebut.

Balai TNUK juga mengacu pada keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang menyebut erupsi Anak Krakatau saat ini tidak memicu tsunami. Abu vulkanik yang terbawa angin musiman dari arah selatan dengan kecepatan sekitar 20-30 knot pun belum terdeteksi mencapai habitat badak.

"Kondisi badak jawa sejauh ini tetap aman dan tidak terdampak langsung oleh erupsi Gunung Anak Krakatau," tulis Balai TNUK dalam unggahan resminya.

Monitoring Berkala dan Prioritas Kelangsungan Hidup Satwa

Tim Balai Taman Nasional Ujung Kulon terus melakukan monitoring kondisi kawasan dan satwa secara berkala. Erupsi ini menjadi pengingat bahwa alam bersifat dinamis, tetapi pemantauan konsisten dan langkah mitigasi yang tepat tetap menjadi kunci utama.

"Erupsi Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa alam memang dinamis, tetapi dengan pemantauan yang konsisten dan langkah mitigasi yang tepat, kelangsungan hidup badak jawa tetap menjadi prioritas utama," tulis Balai TNUK.

Bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon, kondisi terkini kawasan dan informasi kunjungan dapat dikonfirmasi langsung melalui kanal resmi Balai TNUK. Keberadaan badak jawa yang saat ini berjumlah sekitar 70-80 ekor menjadikan kawasan ini salah satu destinasi konservasi paling penting di dunia.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top