JAMBI — Bagi masyarakat yang tengah memantau pergerakan emas, kabar ini layak dicermati. Harga emas batangan produksi Antam mencatatkan kenaikan beruntun dalam dua hari terakhir, memperpanjang tren positif sepanjang pekan ini.
Pada penutupan Kamis (3/9), emas Antam masih dibanderol Rp 2.639.000 per gram. Kini, berdasarkan laman resmi Logam Mulia Antam, harga jual emas ukuran 1 gram berada di level Rp 2.670.000. Artinya, dalam dua hari harga emas Antam telah menguat total Rp 46.000.
Harga buyback atau nilai yang diterima konsumen saat menjual kembali emasnya ke Antam juga ikut naik Rp 31.000 menjadi Rp 2.523.000 per gram. Selisih antara harga jual dan harga buyback ini merupakan ongkos yang menjadi bagian dari margin bisnis Antam.
Perlu dicatat, harga emas Antam bersifat fluktuatif dan mengikuti dinamika pasar global. Sepanjang tahun ini, harga sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis (29/1/2026) lalu, ketika emas Antam menembus Rp 3.168.000 per gram dan harga buyback di level Rp 2.989.000 per gram.
Berikut daftar harga emas batangan Antam per Jumat (4/9/2026), berdasarkan laman resmi Logam Mulia:
Kenaikan harga emas Antam sejalan dengan penguatan emas dunia. Pada perdagangan Kamis (3/9) waktu AS, harga emas spot melonjak 1,2 persen ke posisi US$ 4.437,08 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS menguat 1,6 persen ke US$ 4.483,30.
Pemicu utamanya adalah indeks dolar AS yang merosot dari level tertinggi dalam hampir tiga minggu, diikuti penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika yang sebelumnya sempat bertengger di level tertinggi dalam beberapa tahun. Kombinasi ini membuat emas, yang tidak memberikan bunga, menjadi lebih menarik dibandingkan aset berbasis dolar.
Pelaku pasar kini berspekulasi sekitar 60 persen kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir September 2026. Ketua The Fed, Kevin Warsh, pekan lalu memberi sinyal bahwa bank sentral mungkin perlu mengetatkan kebijakan moneter jika inflasi tetap berada di atas target.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai kondisi saat ini memberikan angin segar bagi emas. "Dolar yang sedikit melemah dan suku bunga AS yang sedikit lebih rendah memberikan sentimen positif bagi emas. Mengingat The Fed saat ini tidak memberikan panduan kebijakan ke depan (forward guidance), harga emas tetap sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi pasar menjelang pertemuan bulan September," ujarnya.
Fokus investor kini tertuju pada rilis laporan nonfarm payrolls Jumat ini, yang menjadi indikator utama kesehatan pasar tenaga kerja AS. Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan ADP menunjukkan peningkatan moderat jumlah pekerja sektor swasta selama Agustus.
"Laporan ketenagakerjaan kemungkinan akan menjadi penentu utama minggu ini. Jika data pekerjaan berada di bawah ekspektasi dan spekulasi kenaikan suku bunga bulan September mereda, harga emas berpotensi bergerak naik," ujar Kepala Makro Global di Tastylive, Ilya Spivak.
Tren penguatan harga emas ini menegaskan kembali peran emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski demikian, investor ritel tetap perlu mempertimbangkan spread antara harga jual dan buyback, serta potensi volatilitas jangka pendek yang dipicu kebijakan bank sentral dan data ekonomi Amerika.