Kabut Asap Karhutla Selimuti Muaro Jambi, MAN 1 Gelar Pembelajaran Daring, Guru Baru Rasakan Pengalaman Pertama

Penulis: Zulfahmi Rasyid  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 09:31:32 WIB
Suasana kabut asap karhutla menyelimuti area MAN 1 Muaro Jambi, memaksa kegiatan belajar mengajar dialihkan ke pembelajaran daring.

SUNGAI GELAM — Keputusan untuk belajar dari rumah ini bukan tanpa alasan. Kualitas udara di sekitar lingkungan madrasah dinilai sudah tidak layak untuk aktivitas di ruang terbuka, imbas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Provinsi Jambi. Para guru dan siswa pun diinstruksikan untuk tetap terhubung melalui jaringan internet masing-masing.

Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum, Suratno, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pembelajaran daring adalah langkah yang paling memungkinkan di tengah situasi darurat ini. Beliau mengapresiasi dedikasi para pendidik yang tetap menjalankan tugasnya meskipun dalam kondisi yang tidak ideal.

“Saya mengapresiasi para guru yang sudah melaksanakan pembelajaran dengan baik meskipun kondisi tidak memungkinkan untuk tatap muka,” ujarnya. Menurutnya, kondisi alam tidak boleh menjadi penghalang untuk menghentikan proses pendidikan di madrasah.

Pengalaman Perdana bagi Guru Muda di Tengah Kondisi Darurat

Bagi sebagian pengajar, skema belajar jarak jauh ini bukanlah hal baru. Namun, bagi Gading, seorang guru yang baru mengabdi sekitar dua tahun, Jumat (28/08) menjadi hari bersejarah karena ia harus memandu kelasnya secara virtual untuk pertama kalinya.

“Ini merupakan kali pertama saya mengajar secara daring,” kata Gading. Ia mengaku tantangan terbesarnya adalah memastikan para siswa tetap fokus dan memahami materi yang disampaikan, meskipun tidak ada interaksi fisik di dalam kelas.

Pengalaman berbeda diungkapkan oleh guru senior, Anita Dewi Anggara. Ia mengaku lebih terbiasa dengan metode ini karena sempat menjalaninya saat pandemi Covid-19 melanda beberapa waktu lalu. Anita menekankan bahwa pembelajaran daring menuntut persiapan yang lebih ekstra dibandingkan tatap muka, terutama dalam hal penyampaian materi yang harus tetap interaktif dan tidak berjalan satu arah.

Harapan Siswa di Tengah Kepulan Asap: Kapan Kembali ke Sekolah?

Di sisi lain, para siswa harus beradaptasi dengan situasi yang tidak mereka inginkan. Yessy, siswi kelas XII B, mengaku kurang nyaman dengan sistem pembelajaran jarak jauh ini. Namun, ia sadar bahwa kesehatan dan keselamatan adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

“Sebenarnya kami kurang nyaman belajar daring, tetapi karena faktor alam, kami harus seperti ini,” ungkapnya. Ia berharap kondisi udara segera membaik dan hujan segera turun untuk membersihkan atmosfer dari kabut asap, sehingga aktivitas belajar di madrasah bisa kembali normal.

Ketahanan Pendidikan di Tengah Bencana Kabut Asap

Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa institusi pendidikan di daerah harus sigap menghadapi kondisi tak terduga. MAN 1 Muaro Jambi berhasil menunjukkan kesiapannya dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kepulan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Komunikasi antara guru dan murid menjadi kunci utama agar materi pelajaran tetap tersampaikan dengan baik. Dengan kerja sama yang solid, kegiatan belajar mengajar pun tetap terlaksana meskipun ruang kelas fisik harus dikosongkan untuk sementara waktu.

Pelaksanaan pembelajaran daring ini diharapkan menjadi solusi efektif selama status kualitas udara belum membaik. Semua pihak berharap karhutla segera tertangani dan kondisi udara di Kabupaten Muaro Jambi kembali sehat, agar para siswa dapat kembali menikmati pembelajaran tatap muka dengan aman dan nyaman.

Reporter: Zulfahmi Rasyid
Sumber: man1muarojambi.mdrsh.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top