JAMBI — Pergerakan logam mulia Antam hari ini berbalik arah dari pasar global. Alih-alih ikut melemah, harga perak produksi BUMN tambang pelat merah itu justru menguat dari posisi Rp 45.350 per gram pada perdagangan sebelumnya.
Antam memasarkan produk perak dalam tiga varian utama: batangan 250 gram, batangan 500 gram, dan perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen. Untuk ukuran 250 gram, Antam membanderolnya di angka Rp 11.950.000. Sementara varian 500 gram dijual seharga Rp 22.975.000.
Pelemahan harga perak di pasar global dipicu sikap wait-and-see investor. Mereka menahan diri menjelang pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh di simposium tahunan Jackson Hole, Wyoming, Jumat waktu setempat. Pasar ingin mendengar arah kebijakan suku bunga AS dari pidato perdana Warsh tersebut.
Saat ini, pelaku pasar memperhitungkan peluang sekitar 65 persen The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Namun, data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan justru memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun—probabilitasnya pada Desember masih tercatat di atas 70 persen.
Di sisi lain, logam mulia masih diuntungkan tren investasi yang dipicu kekhawatiran penurunan nilai mata uang (debasement trade). Langkah Departemen Keuangan AS yang memperluas program pembelian kembali utang dinilai meningkatkan risiko krisis utang dan pelemahan dolar lebih lanjut.
Berbeda dengan perak, harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026 (Jumat pagi waktu Jakarta). Harga emas di pasar spot naik 0,4 persen menjadi US$ 4.609,97 per ons, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 1,4 persen—penurunan harian terbesar dalam sepekan. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga naik 0,2 persen ke level US$ 4.664,40.
Reli emas pekan ini sempat membawa harga ke level tertinggi sejak pertengahan Mei. Pemicunya masih sama: kekhawatiran atas pelemahan dolar AS menyusul kebijakan Departemen Keuangan yang memperbesar pembelian kembali obligasi jangka panjang.
Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menilai permintaan emas saat ini datang dari dua arah. "Saya bersikap bullish semata-mata karena permintaan saat ini; kita melihat banyak permintaan yang datang dari sisi ETF, serta permintaan dari bank sentral yang menjadikannya aset alternatif selain dolar," ujarnya.
Di luar kebijakan moneter, harga minyak tetap bertahan tinggi akibat eskalasi perang Rusia-Ukraina. Kondisi ini mengimbangi tanda-tanda kemajuan diplomatik di Timur Tengah yang sempat meredakan kekhawatiran pasokan.
Haberkorn menambahkan, pasar akan tetap berhati-hati sembari menantikan pertemuan Jackson Hole yang menjadi sorotan utama. Investor berharap Warsh memanfaatkan pidato perdananya untuk memaparkan peta jalan mengembalikan inflasi ke target The Fed, sekaligus menjelaskan peran pasar obligasi dalam strategi tersebut.
Bagi investor ritel Indonesia, pergerakan harga perak Antam yang berlawanan dengan pasar global bisa menjadi sinyal bahwa permintaan domestik terhadap logam mulia fisik masih solid. Namun, volatilitas harga perak dunia yang dipicu ketidakpastian kebijakan The Fed tetap menjadi variabel yang patut dicermati sebelum memutuskan membeli atau menjual.