ISMI Jambi Angkat Tema "Ber-Ilmu, Beradat, Membangun Peradaban" untuk Perkuat Identitas Melayu di Tengah Globalisasi

Penulis: Tengku Syafri  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 16:30:41 WIB
ISMI Jambi resmi angkat tema penguatan identitas Melayu melalui ilmu dan adat.

JAMBI — Organisasi kemasyarakatan yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan pengabdian sosial, Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi, resmi mengusung tema “Ber-Ilmu, Beradat, Membangun Peradaban; Sarjana Melayu Hadir dengan Ilmu dan Adat untuk Kemajuan Bangsa.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah gagasan konkret untuk menjawab tantangan zaman.

Ilmu Tanpa Moral Bisa Melahirkan Penyimpangan

Menurut ISMI, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memang membawa kemudahan, tetapi juga memunculkan persoalan baru seperti melemahnya gotong royong dan krisis keteladanan. Karena itu, ilmu yang dimiliki seorang sarjana harus dibarengi dengan moral dan nilai budaya.

“Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah,” demikian falsafah yang dipegang masyarakat Melayu. Falsafah ini menegaskan bahwa adat dan budaya Melayu tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai Islam sebagai sumber etika kehidupan.

Hadis dan Ayat Jadi Landasan Pengabdian

ISMI merujuk pada QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang menyebut Allah akan meninggikan derajat orang-orang berilmu. Juga hadis Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Kedua landasan ini menjadi fondasi bahwa ilmu yang dimiliki para sarjana harus diwujudkan dalam bentuk manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar gelar akademik.

Identitas Melayu Terkikis, ISMI Dorong Penguatan Sejak Dini

Samuel Huntington, dalam teorinya tentang benturan peradaban, menyebut identitas budaya sebagai faktor penentu keberlangsungan suatu bangsa. ISMI menilai, generasi muda Jambi kini semakin jauh dari akar budayanya karena budaya luar masuk tanpa filter.

Oleh karena itu, ISMI berkomitmen melakukan penguatan budaya Melayu secara berkelanjutan. Mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak. Pengenalan budaya dilakukan sejak anak-anak hingga orang tua agar budaya Melayu tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi pedoman hidup yang terus berkembang.

Budaya Juga Punya Nilai Ekonomi

ISMI tak hanya bicara soal pelestarian. Organisasi ini juga mendorong nilai ekonomi dari budaya Melayu. Batik Jambi, kerajinan tradisional, kuliner khas, hingga produk UMKM lokal dinilai memiliki potensi besar untuk dipasarkan secara nasional dan internasional.

“Saya Bangga Menjadi Anak Melayu,” demikian semangat yang ingin ditanamkan ISMI. Kebanggaan ini, menurut mereka, harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar retorika.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: wartapendidikan.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top