JAMBI — Conte mengakhiri petualangan dua musim di Stadio Diego Armando Maradona. Pelatih asal Italia itu mengaku sudah menyampaikan keputusannya kepada de Laurentiis beberapa pekan lalu. "Keputusan ini murni dari saya. Napoli akan selalu menjadi rumah," ujar Conte dalam jumpa pers yang dikutip media Italia.
Eks pelatih Chelsea dan Tottenham Hotspur itu datang ke Napoli pada 2024 dan langsung mempersembahkan Scudetto keempat sepanjang sejarah klub. Namun, musim ini ceritanya berbeda. I Partenopei harus puas di posisi kedua, tertinggal 11 poin dari Inter Milan yang keluar sebagai juara.
Kegagalan juga dialami di Liga Champions. Napoli—tim yang biasa disegani di Eropa—gagal melaju ke fase gugur. Conte memang punya reputasi kurang mentereng di kompetisi antarklub Eropa, dan musim ini menjadi bukti lain dari catatan tersebut.
Musim panas lalu, Conte nyaris pergi. Setelah negosiasi dengan de Laurentiis, ia bertahan dan klub pun bergerak di bursa transfer. Dua nama besar direkrut: Kevin de Bruyne dan Rasmus Hojlund. Tapi cedera dan inkonsistensi performa menghantui sepanjang musim. Alih-alih mempertahankan gelar, Napoli justru limbung di momen-momen krusial.
Kegagalan mempertahankan konsistensi menjadi biang kerok utama. Dari 38 laga Serie A, Napoli hanya mampu memenangi 22 pertandingan—terlalu sedikit untuk bersaing dengan Inter yang tampil dominan.
Saat ditanya soal kemungkinan menangani tim nasional Italia, Conte bukannya menjawab serius. Ia justru melontarkan sindiran halus kepada Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). "Saran saya, pekerjakan Pep Guardiola," ucapnya diplomatis.
Pernyataan itu langsung memicu spekulasi. Conte, yang pernah menukangi Gli Azzurri pada 2014-2016, seolah memberi isyarat bahwa ia tak tertarik kembali ke kursi panas Nazionale dalam waktu dekat. Siapa pun penggantinya nanti, Napoli harus memulai babak baru tanpa sosok yang membawa mereka ke puncak tertinggi Italia dua tahun lalu.