Pencarian

Dampak Kabut Asap Karhutla pada Paru-Paru Anak Menurut IDAI

Senin, 19 Oktober 2026 • 12:35:01 WIB
Dampak Kabut Asap Karhutla pada Paru-Paru Anak Menurut IDAI
Paparan asap karhutla membuat anak menghirup polutan lebih banyak dibanding orang dewasa pada lokasi yang sama.

JAMBI — Paparan asap karhutla membuat anak menerima dosis polutan lebih besar daripada orang dewasa di lokasi yang sama. IDAI memaparkan bahaya partikel PM2.5 hingga langkah mitigasi yang bisa ibu lakukan di rumah, lengkap dengan panduan berdasarkan angka ISPU.

Anak menghirup udara dua kali lebih banyak per kilogram berat badan dibanding orang dewasa. Di tengah kabut asap karhutla, kelebihan itu berubah jadi beban besar bagi paru-paru yang belum sempurna tumbuh.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti kerentanan tersebut. Sistem pernapasan dan kekebalan anak masih berkembang, sementara diameter saluran napasnya lebih kecil dan frekuensi napasnya lebih tinggi.

Kenapa Asap Karhutla Bukan Asap Biasa

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Fifi Sofiah, SpA, Subsp Respi(K), menegaskan asap karhutla mengandung campuran zat yang jauh lebih kompleks. Bukan sekadar partikel abu yang terlihat mata.

Di dalamnya ada partikel padat, gas, dan cairan hasil pembakaran tidak sempurna. Mulai dari hidrogen sulfida, sulfur, karbon dioksida, polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), asam, hingga logam berat seperti silika, tembaga, kadmium, timbal, bromium, zink, dan kalium.

"Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar 'asap biasa'," kata dr Fifi melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom.

Bagaimana Partikel Asap Masuk ke Paru-Paru Anak

Komponen yang paling perlu diwaspadai adalah PM2.5, partikel berukuran kurang dari 2,5 mikron. Ukurannya sangat kecil sehingga bisa menembus alveoli, bagian terdalam paru-paru, bahkan berpotensi masuk ke aliran darah.

Partikel PM10 mengiritasi saluran napas atas. PM2.5 melangkah lebih jauh, memicu gangguan pada saluran napas bawah. Aldehida dalam asap juga mengganggu kerja silia, rambut halus yang bertugas menyapu partikel asing keluar dari saluran napas.

Karbon monoksida menambah masalah lain: mengganggu kemampuan darah mengangkut oksigen. Paparan polutan berulang dapat memicu kerusakan sel, dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko gangguan napas kronis hingga anak dewasa.

Mengapa Anak Lebih Rentan Dibanding Orang Dewasa

Selain kekebalan yang belum matang, saluran napas anak lebih sempit. Frekuensi napasnya lebih tinggi, dan kebutuhan ventilasi udara per kilogram berat badan lebih besar.

Hasilnya, dalam udara tercemar yang sama, anak menghirup polutan lebih banyak daripada orang dewasa. Rumah yang tampak aman pun bisa jadi tidak aman kalau pintu dan jendela dibiarkan terbuka saat ISPU tinggi.

Langkah Mitigasi yang Bisa Dilakukan Keluarga

Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, dr Dimas Dwi Saputro, SpA, Subsp Respi(K), memaparkan sejumlah langkah praktis. Intinya mengurangi paparan sebisa mungkin.

  • Kurangi aktivitas di luar ruangan saat udara tercemar.
  • Tutup pintu dan jendela ketika kualitas udara luar memburuk.
  • Pakai masker yang sesuai bila harus keluar rumah.
  • Cukupi kebutuhan cairan anak.
  • Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
  • Cuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi.

Keluarga juga dianjurkan menyiapkan tas siaga bencana. Pahami jalur evakuasi, titik kumpul, dan rencana kesiapsiagaan keluarga sejak jauh hari.

Panduan Berdasarkan Angka ISPU

IDAI menekankan pentingnya memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebagai dasar menentukan langkah perlindungan. Rekomendasinya dibedakan menurut kelompok usia: neonatus (0-28 hari), bayi (28 hari-12 bulan), balita (12-60 bulan), anak (5-12 tahun), dan remaja (12-18 tahun).

Pada ISPU 0-50 (baik) hingga 51-100 (sedang), kelompok rentan dianjurkan mengurangi paparan asap. Saat ISPU masuk 101-199 (tidak sehat) sampai 200-299 (sangat tidak sehat), pertimbangkan evakuasi ke tempat berudara bersih atau lokasi aman berdasarkan indikasi medis.

Prioritas evakuasi pada tahap ini adalah neonatus, bayi, dan balita dengan penyakit penyerta. Pemberian obat esensial dan suplementasi oksigen dilakukan sesuai indikasi medis. Jika ISPU melampaui 300 (berbahaya), evakuasi berlaku untuk seluruh kelompok.

Kapan Perlu ke Dokter

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas, napas berbunyi, batuk yang memburuk, atau kulit dan bibir tampak kebiruan. Anak dengan riwayat asma atau penyakit paru lain perlu pemantauan lebih ketat.

Jangan menunda konsultasi hanya karena gejala tampak ringan. Pada anak kecil, perburukan bisa berlangsung cepat.

Melindungi paru-paru anak saat kabut asap bukan soal panik, tapi soal keputusan kecil yang konsisten. Cek ISPU setiap pagi, tutup jendela saat angkanya naik, dan siapkan tas siaga sebelum situasi memburuk.

Follow halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks