Pencarian

Fasilitas Cetak 3D Terbesar di Dunia Produksi Kapal Drone Militer dengan Lengan Robotik

Selasa, 18 Agustus 2026 • 08:14:01 WIB
Fasilitas Cetak 3D Terbesar di Dunia Produksi Kapal Drone Militer dengan Lengan Robotik
Haddy merampungkan produksi kapal drone militer TF-179 di fasilitas pencetakan 3D terbesar di dunia di Florida.

JAMBI — Perusahaan manufaktur digital asal St. Petersburg, Florida, Haddy, telah merampungkan pembuatan kapal drone militer menggunakan teknologi pencetakan 3D format besar dengan lengan robotik. Kapal yang diberi nama TF-179 Drone Boat ini diproduksi di fasilitas seluas kurang lebih 30.000 kaki persegi (sekitar 2.800 meter persegi) yang diklaim sebagai fasilitas pencetakan 3D terbesar di dunia berdasarkan kapasitas produksi dan jumlah mesin.

Haddy tidak mengungkapkan identitas pelanggan militer di balik proyek TF-179, namun merilis foto-foto kapal jadi melalui pernyataan resmi perusahaan. "Industri maritim sedang mendefinisikan ulang bagaimana kapal dirancang dan diproduksi," demikian bunyi pernyataan Haddy dalam pengumuman kapal TF-179.

Kapasitas Produksi dan Proses Pencetakan

Fasilitas Haddy menampung delapan sistem pencetakan CEAD format besar. Tujuh di antaranya dipasang di rel yang memperluas jangkauan mesin untuk memproduksi komponen tunggal berukuran sangat besar tanpa sambungan. Proses ini sebelumnya digunakan untuk mencetak lambung kapal berpenguat serat karbon untuk HavocAI, yang berhasil menyelesaikan uji coba kapal dari tahap desain hingga peluncuran ke laut hanya dalam sembilan hari.

Pendekatan manufaktur aditif ini memungkinkan penyesuaian desain kapal secara digital dan pencetakan versi baru dalam hitungan hari. Ini kontras dengan metode pembuatan kapal konvensional berawak yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Mengapa Militer Beralih ke Kapal Drone Murah

Lonjakan permintaan kapal drone maritim berukuran kecil dan sekali pakai terjadi di industri pertahanan AS dalam setahun terakhir. Pergeseran ini mengikuti pelajaran langsung dari perang Ukraina melawan Rusia di Laut Hitam, di mana kapal drone murah yang dikendalikan dari jarak jauh berulang kali merusak atau menghancurkan kapal perang Rusia yang jauh lebih mahal.

Fenomena serupa juga terlihat di Timur Tengah. Gerombolan drone murah Iran digunakan untuk melacak pesawat mahal, yang akhirnya berhasil ditembak jatuh, termasuk jet tempur F-15E Strike Eagle senilai USD 60 juta (sekitar Rp 990 miliar) dan beberapa drone MQ-9 Reaper senilai USD 30 juta (sekitar Rp 495 miliar).

Strategi Baru: Kecepatan dan Volume Menggantikan Kapal Perang Mahal

Hasil di medan perang tersebut mendorong perencana pertahanan AS dan sekutu untuk memprioritaskan kecepatan dan volume produksi dibandingkan jadwal pembuatan kapal tradisional yang memakan waktu bertahun-tahun. Kapal drone kecil yang dapat dibuang dianggap lebih cepat diganti dan didesain ulang dibandingkan satu kapal perang bernilai jutaan dolar.

Haddy didirikan oleh Jay Rogers, mantan marinir AS dan lulusan Princeton yang sebelumnya memimpin usaha pencetakan 3D bernama Local Motors. Perusahaan ini memulai operasinya pada 2022 dengan memproduksi furnitur dan elemen arsitektur khusus, sebelum mengalihkan fokus utamanya ke manufaktur pertahanan.

Kemitraan dengan Blue Ops dan Prospek ke Depan

Haddy juga menjalin kemitraan dengan Blue Ops, divisi kapal drone maritim dari Red Cat Holdings, untuk membantu menggandakan kapasitas produksi kapal permukaan tanpa awak. Blue Ops menjual kapal drone tersebut ke militer AS dan sekutu sebagai alternatif yang lebih kecil dan murah dibandingkan kapal patroli berawak konvensional.

Hingga saat ini, Haddy belum menyatakan apakah desain TF-179 akan diadaptasi untuk pelanggan militer lain di luar klien yang tidak disebutkan namanya. Belum jelas pula apakah kapal hasil cetakan 3D ini mampu menandingi daya tahan dan keandalan jangka panjang kapal perang yang dibangun dengan metode konvensional.

Follow halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techradar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks