BANGKO — Sekda Merangin Zulhifni menekankan bahwa penduduk dan dinamikanya menjadi poros utama pembangunan daerah. Dalam sambutan tertulis Bupati Merangin M. Syukur yang dibacakannya, ia menyebut segala aspek perencanaan harus mengacu pada situasi kependudukan terkini.
“Penduduk merupakan manusia, sedangkan dinamikanya merupakan segala hal yang berkaitan dengan penduduk. Pada hakikatnya, segala macam aspek perencanaan pembangunan harus mengacu berdasarkan pada situasi kependudukan yang sedang terjadi,” ujar Zulhifni di hadapan peserta FGD.
Mengapa Data Kependudukan Jadi Kunci Pembangunan Merangin?
Zulhifni memaparkan, penduduk adalah penerima manfaat utama pembangunan. Jumlah, struktur, persebaran, hingga pertumbuhan penduduk berdampak langsung pada berbagai sektor—sosial, ekonomi, budaya, pangan, energi, lingkungan, politik, hingga keamanan.
Tanpa data yang presisi, kebijakan pembangunan berisiko meleset sasaran. Itu sebabnya, Sekda meminta sinergi langsung dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan jajaran Kepala Dinas OPD terkait yang hadir. Ia mengingatkan pentingnya koordinasi lintas sektor demi keakuratan data.
Apa Isi Dokumen GDPK 5 Pilar untuk 20 Tahun ke Depan?
Dokumen GDPK dirancang untuk memetakan arah kebijakan kependudukan Merangin dari tahun 2025 hingga 2045. Dokumen ini tidak hanya menjadi pedoman perencanaan, tetapi juga alat untuk mengukuhkan komitmen bersama antara pemerintah daerah dan OPD dalam mengatasi isu kependudukan.
“Dokumen GDPK diharapkan dapat menyediakan arahan kebijakan untuk perencanaan dan implementasi pembangunan, serta memetakan arah kebijakan kependudukan di dua dekade mendatang,” tambah Zulhifni.
Langkah ini dinilai strategis karena Indonesia akan menyongsong momentum Indonesia Emas pada 2045, tepat satu abad kemerdekaan RI. Pemerintah Kabupaten Merangin berkomitmen menyiapkan pertumbuhan penduduk yang seimbang dan keluarga berkualitas untuk menghadapi tantangan demografis masa depan.
Bukan Hanya Tugas Pemerintah, Warga Diminta Proaktif
Menutup arahannya, Sekda Zulhifni mengajak seluruh elemen masyarakat tidak hanya mengandalkan pemerintah. Ia meminta warga ikut proaktif dalam mencegah dan mencari solusi atas permasalahan kependudukan.
Acara kemudian resmi dibuka dengan pantun khas Melayu: “Pohon kelapa tumbuh di taman, daunnya lebat tertiup angin. Mari kita buka pertemuan, semoga berkah rahmat-Mu di Kabupaten Merangin.” Pantun itu disambut tepuk tangan para peserta FGD.