MUARO BUNGO — Direktur PERUMDA Pancuran Telago Kabupaten Bungo, Eka Yasa ST, menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas kepulangan H. Zulfikar Achmad. Eka merupakan putra dari H. Hoesin Saat, sepupu kandung almarhum. Ia menyebut Zulfikar sebagai sosok yang tidak hanya bagian dari keluarga besar, tetapi juga figur pemimpin yang dekat dengan masyarakat.
"Kami sangat kehilangan sosok pemimpin yang tegas, mengayomi, dan menjadi teladan bagi kami semua. Almarhum telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan daerah dan masyarakat Jambi," ujar Eka Yasa ST.
Zulfikar Achmad lahir di bumi Sepucuk Jambi Lurah Sembilan dan memiliki akar kuat di kawasan Lubuk Landai serta Pelayang, Kabupaten Bungo. Sebelum masuk dunia politik, ia mengawali karier sebagai pengusaha di Jakarta.
Pada tahun 2000, Zulfikar memutuskan pulang ke kampung halaman untuk mengabdikan diri membangun daerah. Keputusan itu mengantar dirinya memimpin Kabupaten Bungo selama dua periode sebagai bupati.
Selama menjabat bupati, Zulfikar dikenal lewat kebijakan pembangunan infrastruktur dan program kesejahteraan warga. Setelah masa kepemimpinannya di Bungo berakhir, kiprahnya berlanjut ke tingkat nasional sebagai anggota DPR RI.
Selama tiga periode berturut-turut di Senayan, almarhum konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat Jambi di tingkat pusat. Kombinasi pengalaman eksekutif dan legislatif itu membuatnya dikenal sebagai tokoh karismatik di mata warga Bungo.
Ucapan belasungkawa mengalir dari masyarakat Kabupaten Bungo. Warga yang menghadiri prosesi penghormatan terakhir mengenang almarhum sebagai figur yang selalu mendengarkan keluhan rakyat kecil.
"Beliau adalah figur teladan yang luar biasa, sosok pengabdi sejati yang selalu mendengarkan dan memperjuangkan nasib rakyatnya," kenang warga saat menghadiri prosesi penghormatan terakhir.
Bagi keluarga besar dan warga Jambi, Zulfikar Achmad bukan sekadar mantan pejabat. Ia dipandang sebagai pengayom yang teguh memperjuangkan kepentingan publik selama berkarier di pemerintahan maupun legislatif.