JAMBI — Sebanyak 61 lulusan pendidikan vokasi Ocean Institute of Indonesia (OII) resmi dilepas untuk bekerja di sektor kelautan dan perikanan di lima negara tujuan. Penempatan itu didominasi Taiwan dengan 27 orang dan Jepang 22 orang, disusul Suriname 6 orang, Korea Selatan 5 orang, serta Malaysia 1 orang.
Pelepasan berlangsung dalam kegiatan Vocational Goes to Actor (VOGA) 2026 di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dari sisi latar belakang pendidikan, 44 lulusan berasal dari bidang perikanan tangkap, 7 orang dari budidaya, dan 10 orang dari pengolahan hasil perikanan.
Taiwan menyerap porsi terbesar dengan 27 lulusan, diikuti Jepang 22 orang. Suriname menerima 6 orang, Korea Selatan 5 orang, dan Malaysia 1 orang. Durasi kontrak kerja para lulusan tidak seragam, sebagian enam bulan dan sebagian lebih lama.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan II Irwan Meilano menekankan nilai pengalaman industri di negara tujuan. Menurutnya, yang terpenting bukan sekadar bekerja di luar negeri, melainkan menyerap cara kerja industri terbaik untuk dibawa pulang.
"Yang lebih penting dari pengalaman di luar negeri adalah mereka mendapatkan pengalaman industri di lokasi industri terbaik, yang untuk kemudian itu dibawa nanti sebagai pengalaman ke Indonesia," kata Irwan dalam kegiatan VOGA 2026, Selasa (3/11).
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP I Nyoman Radiarta menyatakan penempatan kerja disiapkan jauh sebelum kelulusan. Para peserta menjalani pelatihan bahasa hingga seluruh prosedur penempatan luar negeri.
"Persiapan ini kami sudah melakukan sejak awal mereka di bangku kuliah. Jadi mereka mengikuti pelatihan bahasa, kemudian mengikuti seluruh prosedur yang ada untuk penempatan di luar negeri," ujarnya.
Pelatihan bahasa menjadi krusial karena lima negara tujuan punya standar sertifikasi kompetensi dan bahasa kerja yang berbeda. KKP memposisikan proses ini sebagai bagian dari penyelarasan pendidikan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja global.
Irwan berharap pengalaman kerja di luar negeri mendorong lahirnya wirausaha baru di sektor kelautan dan perikanan dalam negeri. Ia mencontohkan sejumlah alumni yang sudah membangun usaha sendiri setelah menimba pengalaman di industri asing.
"Pengalaman-pengalaman mereka belajar di industri terbaik di luar negeri, membawa pengalaman ke dalam negeri, dan akhirnya bisa membangun industri kita di dalam negeri," ujarnya.
Harapan itu sejalan dengan persoalan klasik sektor perikanan nasional: keterbatasan tenaga kerja terampil di hilir, mulai dari pengolahan hingga rantai pendingin. Lulusan yang menguasai standar industri ekspor berpeluang mengisi celah tersebut.
Dalam forum yang sama, KKP mempertemukan OII dengan dunia usaha dan dunia industri. Kegiatan diikuti sekitar 400 peserta dan menjadi bagian dari upaya menyelaraskan kurikulum vokasi dengan kebutuhan sektor.
KKP juga menandatangani kerja sama dengan 13 mitra dunia usaha dan dunia industri serta satu universitas. Kerja sama diarahkan untuk memperluas pembelajaran, meningkatkan kompetensi, dan memperbesar peluang penyerapan lulusan.
Irwan menyatakan masukan dari industri akan menjadi bahan perbaikan kurikulum pendidikan vokasi KKP. Perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja, menurutnya, menuntut lulusan memiliki kemampuan beradaptasi.
Bagi pelaku usaha perikanan, skema penempatan seperti VOGA 2026 berpotensi membuka jalur kemitraan tenaga kerja terampil sekaligus memperluas jaringan pasokan dari lulusan OII. Skala penempatannya masih kecil, 61 orang, tetapi menjadi sinyal arah kebijakan vokasi KKP yang kian berorientasi pasar ekspor.