JAMBI — Kepala Dinas Sosial Kota Jambi Yunita Indrawati menyatakan pihaknya menempatkan psikolog di lingkungan sekolah berasrama tersebut. Menurut dia, keberadaan tenaga pendamping dibutuhkan karena siswa menghadapi dua tekanan sekaligus: tuntutan belajar di kelas dan keharusan menyesuaikan diri dengan tempat tinggal baru.
Penempatan psikolog disebut untuk menangani persoalan yang muncul selama siswa menjalani pendidikan, baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari di asrama.
Kehidupan berasrama membawa perubahan besar bagi anak. Mereka harus mengikuti jadwal kegiatan harian yang ketat, mematuhi aturan kedisiplinan, dan hidup jauh dari kebiasaan rumah. Adaptasi semacam ini tidak selalu berjalan mulus.
Dinas Sosial Kota Jambi menilai pendampingan psikologis membantu siswa menyampaikan keluhan yang mungkin sulit mereka utarakan sendiri. Selain itu, pendampingan diarahkan untuk membangun rasa percaya diri dan melatih kemandirian.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan mengelola emosi ketika siswa menghadapi kesulitan beradaptasi. Dengan begitu, perhatian sekolah tidak berhenti pada capaian akademik, tetapi juga mencakup perkembangan psikologis dan kemampuan bersosialisasi.
Dinas Sosial Kota Jambi mencatat program Sekolah Rakyat di daerah itu diikuti 270 siswa. Laporan terbaru pada 8 September 2026 menyebut jumlah keseluruhan peserta didik di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 mencapai 370 siswa, terdiri dari 270 siswa baru dan 100 siswa lanjutan.
Selisih angka itu berasal dari perbedaan waktu dan cakupan pelaporan. Karena itu, jumlah siswa terbaru masih perlu dikonfirmasi kembali kepada pihak sekolah maupun Dinas Sosial Kota Jambi.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Jambi merupakan bagian dari program pendidikan yang membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini memakai sistem berasrama dengan dukungan kebutuhan dasar siswa selama mengikuti pendidikan.
Selain kegiatan belajar, siswa menjalani pembinaan karakter, kedisiplinan, dan pengembangan keterampilan sosial. Sasaran program adalah anak-anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah, terutama kelompok desil 1 dan desil 2.
Melalui skema itu, pemerintah berupaya memperluas akses pendidikan sekaligus memberi peluang bagi anak dari keluarga prasejahtera untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Yunita menegaskan kesiapan tenaga pendamping di sekolah berasrama tersebut. "Kita siapkan psikolog di sana. Jadi semua persoalan bisa kita atasi dengan baik," ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Pernyataan itu menegaskan bahwa penanganan persoalan siswa tidak diserahkan sepenuhnya kepada pengelola asrama. Dinas Sosial menyiapkan jalur pendampingan tersendiri bagi siswa yang membutuhkan bantuan.