Review Film Empat Musim Pertiwi: Perjalanan Traumatik Putri Marino

Penulis: Wan Rizal  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 20:04:02 WIB
Putri Marino memerankan tokoh Pertiwi dalam film Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini.

JAMBI — Kamila Andini kembali merilis film terbarunya berjudul Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) dengan Putri Marino sebagai pemeran utama. Film berdurasi 2 jam 17 menit ini mengangkat kisah seorang penyintas kekerasan seksual yang pulang ke kampung halaman, berlatar dinginnya kawasan Bromo-Tengger. Lewat pendekatan slow-burn, Kamila mengajak penonton menyelami trauma dan kehampaan jiwa Pertiwi hingga ke lapisan spiritual.

Empat Musim Pertiwi bukan sekadar kisah balas dendam. Kamila Andini membangun narasi dari pengalaman pulang kampung yang bagi sebagian orang justru menghadirkan luka, bukan kehangatan. Pertiwi, diperankan Putri Marino, kembali ke tempat yang menyimpan trauma masa lalu.

Naskah yang ditulis Kamila sendiri dibangun dari riset mendalam bersama para penyintas kekerasan seksual. Hasilnya, adegan-adegan metaforis yang mengaburkan batas surealis dan fantasi jadi tulang punggung cerita. Penonton diajak masuk ke dimensi emosional yang tidak selalu mudah dicerna.

Sinopsis dan Premis Cerita

Pertiwi pulang ke kawasan Bromo-Tengger yang digambarkan dingin dan tak ramah. Alih-alih sambutan hangat, ia justru berhadapan dengan kenangan yang membekas. Perjalanan ini menjadi panggung bagi Pertiwi untuk menyusun kepingan memori yang berserakan.

Kamila memilih pendekatan slow-burn. Dua pertiga durasi awal dipakai untuk membangun kehampaan dan rasa tak berujung yang dialami Pertiwi. Baru di sepertiga akhir, cerita menemukan bentuk utuhnya dan bergerak menuju puncak.

Penampilan Putri Marino dan Aspek Teknis

Putri Marino tampil konsisten menghadirkan beragam emosi Pertiwi. Ia seolah benar-benar menjalani kondisi yang dialami tokohnya, dari dingin, hampa, hingga perlahan menemukan titik terang. Penampilan ini jadi salah satu kekuatan utama film.

Dari sisi visual, kamera Batara Goempar menangkap lanskap Bromo dengan sinematik. Dita Gambiro sebagai desainer produksi, tim editing, tata suara, dan efek visual ikut menerjemahkan imajinasi Kamila. Kerja tim ini membantu menyampaikan kompleksitas emosional penyintas ke dalam bahasa visual.

Makna di Balik Adegan Balas Dendam

Babak penyelesaian konflik dibangun berlapis. Aksi balas dendam mungkin terasa memuaskan, tapi Kamila menyiapkan sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Pertanyaan yang muncul: apakah balas dendam benar-benar solusi dan mampu memulihkan kerusakan yang sudah terjadi?

Kamila sengaja membuka kisah ini untuk berbagai penafsiran, terutama pada aspek-aspek di luar nalar. Ia tetap berpijak pada kepekaan pribadi yang menyentuh titik sensitif individu maupun kolektif.

Catatan untuk Penonton

Durasi 2 jam 17 menit dan tempo slow-burn bisa jadi tantangan. Sebagian penonton mungkin harus berjuang menjaga fokus di separuh awal perjalanan Pertiwi. Namun kehampaan dan ketidakpastian itulah yang memang dirasakan seorang penyintas yang mendambakan keadilan.

Terlepas dari perdebatan apakah film ini layak mewakili Indonesia di Academy Awards ke-99, Empat Musim Pertiwi setidaknya menggambarkan perjuangan perempuan penyintas untuk tetap waras di tengah dunia patriarki toksik dan alam Indonesia yang indah.

Reporter: Wan Rizal
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top