TEBO — Fiona, siswi MTsN 1 Tebo, didapuk sebagai bintang tamu sekaligus juri dalam Pemilihan Putra Putri Wastra Batik Indonesia tingkat Provinsi Jambi tahun 2026. Peran yang diembannya bukan sekadar tampil di atas panggung, melainkan ikut menilai para kontestan yang berlaga merebut gelar duta wastra batik Jambi.
Penunjukan itu menandai kehadiran pelajar madrasah di ajang kebudayaan tingkat provinsi. Bagi MTsN 1 Tebo, pencapaian Fiona menjadi bukti bahwa bakat dan keahlian generasi muda Tebo mampu bersaing di panggung yang lebih luas.
Apa Peran Fiona di Ajang Putra Putri Wastra Batik Jambi?
Dalam perhelatan tersebut, Fiona tampil memukau hadirin sebagai bintang tamu. Ia juga menjalankan tugas sebagai juri yang menilai para kontestan.
Kombinasi peran itu menempatkan seorang pelajar madrasah di posisi penilai, bukan hanya peserta. Ajang Pemilihan Putra Putri Wastra Batik Indonesia tingkat Provinsi Jambi sendiri merupakan wadah apresiasi budaya yang bertujuan melestarikan kain tradisional nusantara.
Selain melestarikan wastra, ajang ini dirancang mencetak generasi muda yang berkarakter, berwawasan luas, dan peduli terhadap warisan budaya bangsa.
Respons Kepala MTsN 1 Tebo atas Prestasi Fiona
Kepala MTsN 1 Tebo menyampaikan apresiasi dan rasa bangga yang mendalam atas pencapaian siswinya. Menurutnya, kehadiran Fiona dalam ajang kebudayaan dan busana daerah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh siswa-siswi lainnya.
Ia mendorong para siswa untuk terus menggali potensi diri dan mencintai warisan budaya nusantara, khususnya Wastra Batik Jambi. Harapan itu sejalan dengan posisi Tebo sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi batik Jambi.
Mengapa Wastra Batik Jambi Penting bagi Generasi Muda?
Wastra batik Jambi merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga keberlanjutannya. Keikutsertaan pelajar dalam ajang semacam ini menjadi salah satu cara memperkenalkan kain tradisional kepada generasi muda.
MTsN 1 Tebo berharap pencapaian Fiona dapat memicu minat siswa lain terhadap budaya daerah. Prestasi di tingkat provinsi itu sekaligus memperkuat posisi madrasah dalam pembinaan bakat siswa di luar bidang akademik.