JAMBI — Harga emas batangan di Galeri 24, anak usaha PT Pegadaian, bergerak serempak ke atas pada perdagangan Sabtu (19/9/2026). Kenaikan dipimpin Antam ukuran 1 gram yang menembus Rp2.663.000, disusul UBS dan Galeri 24 dengan penguatan masing-masing Rp28.000 per gram.
Pemantauan harga di platform Sahabat Pegadaian menunjukkan tiga merek logam mulia yang dipasarkan Galeri 24 sama-sama mencatatkan kenaikan dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini menambah daftar penguatan harga emas ritel di tengah permintaan masyarakat yang masih berjalan.
Emas Antam ukuran 1 gram menjadi produk dengan harga tertinggi di antara ketiga merek. Harga emas Antam kini berada di level Rp2.663.000 per gram, naik Rp26.000 dari posisi sebelumnya Rp2.637.000 per gram.
Kenaikan Antam ini menjadikannya acuan utama bagi investor ritel yang memantau pergerakan logam mulia di pasar Pegadaian.
Merek UBS mencatat harga Rp2.594.000 per gram, menguat Rp28.000 dari perdagangan sebelumnya di level Rp2.566.000 per gram. Sementara emas Galeri 24 ukuran 1 gram dibanderol Rp2.569.000 per gram, naik Rp28.000 dari sebelumnya Rp2.541.000 per gram.
Dua merek ini bergerak dengan besaran kenaikan yang identik, meski level harganya berbeda.
Kenaikan serempak ini membuat ongkos masuk bagi masyarakat yang ingin menabung emas dalam denominasi kecil menjadi lebih mahal. Pembeli yang menunda transaksi pekan lalu kini harus menyiapkan dana sekitar Rp26.000 hingga Rp28.000 lebih banyak untuk setiap gramnya.
Bagi investor yang sudah memegang emas, penguatan ini menambah nilai portofolio mereka. Namun perlu dicatat bahwa harga emas ritel bergerak harian, sehingga keputusan beli atau jual sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan horizon investasi masing-masing.
Galeri 24 memasarkan produk logam mulia dari tiga merek berbeda, yakni Galeri 24, Antam, dan UBS. Ketiganya memiliki segmen pembeli yang berbeda, dengan Antam umumnya menjadi pilihan favorit karena sertifikasi dan likuiditasnya yang luas di pasar Indonesia.
Perbedaan harga antar merek mencerminkan posisi pasar masing-masing produk, bukan semata selisih biaya produksi. Pembeli biasanya mempertimbangkan kemudahan menjual kembali saat memilih merek.