JAMBI — Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.680 sepanjang sesi. Proyeksi itu sejalan dengan tekanan eksternal yang datang bersamaan: pasar menanti keputusan Federal Reserve dan mencermati risiko geopolitik yang mengangkat harga minyak.
Faktor pertama datang dari Amerika Serikat. Pasar memproyeksikan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis points menjadi 4 persen pada pertemuan Kamis (17/9). Ekspektasi ini diperkuat tren yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di 4,96 persen dan indeks dolar yang menyentuh level 99.
Faktor kedua adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Oktober menembus US$100 per barel, sempat menyentuh US$100,88 atau naik 4,83 dolar AS (5,03 persen). Ini level tertinggi sejak 20 Mei.
Kenaikan harga minyak memberi tekanan tambahan pada ruang fiskal pemerintah. Asumsi APBN untuk harga minyak hanya dipatok US$70 per barel, jauh di bawah level saat ini. Selisih itu berpotensi melebarkan beban subsidi energi dan mengurangi ruang gerak anggaran.
Rully menyebut pelemahan mayoritas mata uang Asia turut dipicu risiko geopolitik yang meningkat. "Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.680," ujarnya di Jakarta.
Kondisi global berpotensi mendorong Bank Indonesia mengambil langkah hawkish dalam Rapat Dewan Gubernur pekan depan. Tujuannya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah menyempitnya ruang fiskal untuk mentransmisi selisih harga minyak dunia.
BI juga memperkuat implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra untuk mengurangi ketergantungan dolar AS. Langkah ini menjadi bantalan struktural, meski dampaknya ke kurs harian terbatas.
Rupiah bergerak fluktuatif dalam sepekan. Pada Rabu (9/9), mata uang ini menguat 121 poin ke Rp17.511 berkat derasnya arus modal masuk ke pasar obligasi pemerintah. Sehari setelahnya, Kamis (10/9), rupiah dibuka melemah tipis ke Rp17.512 saat pasar mengantisipasi pengumuman buyback surat utang AS.
Pada akhir sesi Jumat (4/9), rupiah justru ditutup menguat 37 poin atau 0,21 persen ke Rp17.642. Volatilitas ini mencerminkan dominasi sentimen eksternal terhadap pergerakan kurs jangka pendek.
Bagi pemegang obligasi, kenaikan yield UST 10 tahun ke 4,96 persen memperlebar tekanan pada imbal hasil SUN. Investor asing cenderung menahan diri hingga arah suku bunga The Fed dan BI jelas.
Pelaku usaha yang punya kewajiban dolar AS perlu mencermati risiko selisih kurs. Level Rp17.680 menjadi batas atas proyeksi analis untuk sesi ini. Investasi mengandung risiko.